Mutiara Ramadan: Makna Lapar Saat Puasa
Meski berbeda-beda siklus rasa lapar setiap individu, secara umum laparnya orang berpuasa (shaum) itu berbeda dengan laparnya orang tidak berpuasa.
Editor: Dewi Agustina
Dalam psikologi, niat disebut juga motif yang kemudian mewujud dalam sikap dan perilaku seseorang.
Menurut Winkel (1996), motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang untuk melakukan kegiatan tertentu demi mencapai suatu tujuan.
Ada juga yang mengatakan motif adalah suatu keadaan, kebutuhan, atau dorongan dalam diri seseorang, disadari atau tidak yang membawa kepada terjadinya suatu perilaku.
Imam Ibnul Qayyim berkata, "Niat adalah ruh amal, inti, dan sendinya. Amal itu mengikuti niat. Amal menjadi benar karena niat yang benar. Dan amal menjadi rusak karena niat yang rusak." (I'lamulMuwaqqi'in VI/106).
Karena itu, dalam berpuasa niat menjadi satu hal yang wajib dilakukan.
Tanpa niat, puasa tidak sah karena tidak memiliki motif spiritual untuk Allah SWT.
Karenanya, saat kita telah niat berpuasa, saat bersamaan telah meneguhkan tekad untuk menjauhkan larangan Allah dan menjalankan perintah-Nya.
Janganlah berpuasa hanya terasa lapar dan haus tanpa bekal batin apapun.
Kondisi lapar saat berpuasa mengandung pesan agar kita selalu "menyisakan rasa" untuk memahami saudara-saudara kita yang kesusahan setiap harinya.
Perut yang selalu kenyang akan membuat alat percernaan kita tidak pernah berhenti untuk bekerja.
Kondisi perut penuh (kenyang) tanpa henti akan rentan terhadap munculnya berbagai penyakit, dan tanpa disadari membentuk sikap dan perilaku buruk.
Nabi Muhammad SAW ternyata dalam keseharian tak pernah merasakan kenyang.
Kesaksian istri tercintanya, Siti Aisyah ra , mengatakan, "Keluarga Muhammad SAW tidak pernah kenyang dari roti gandum selama dua hari berturut-turut sampai Rasulullah SAW meninggal." (HR Muslim)