Tribun Ramadan
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Ramadan 2019

Dua Wasiat Utama Sunan Gunung Jati yang Selalu Diingat Saat Ramadan

Sosok Sunan Gunung Jati diingat karena beberapa wasiat utamanya sudah sekian lama menjadi semacam tuntunan sakral yang diwariskan turun temurun.

Dua Wasiat Utama Sunan Gunung Jati yang Selalu Diingat Saat Ramadan
Tribun Jabar/Siti Masithoh
Ridwan Kamil saat bersimpuh dan berdoa di makam Sunan Gunung Jati Cirebon, Selasa (6/3/2018). 

Sosok Sunan Gunung Jati diingat karena beberapa wasiat utamanya sudah sekian lama menjadi semacam tuntunan sakral yang diwariskan turun temurun sehingga terus diingat dan menancap di benak masyarakat.

Di antara beberapa wasiat itu, setidaknya ada dua wasiat utama yang hingga kini sudah dianggap mewujud dalam sikap-perilaku sehari-hari masyarakat Cirebon. Apa saja?

“Insun titip tajug lan fakir miskin.”

Gerbang utama Masjid Sang Cipta Rasa atau Masjid Agung Cirebon, Jawa Barat, Minggu (29/7/2012). Masjid yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati ini berada di dekat kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon. TRIBUNNEWS/HERUDIN
Gerbang utama Masjid Sang Cipta Rasa atau Masjid Agung Cirebon, Jawa Barat, Minggu (29/7/2012). Masjid yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati ini berada di dekat kompleks Keraton Kasepuhan Cirebon. TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN)

“Insun titip tajug lan fakir miskin.”

Itulah kalimat singkat yang terpampang di salah satu sudut area makam Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon, tepatnya di dinding serambi Masjid Agung Gunung Jati.

Kalimat yang sudah sangat familiar bagi masyarakat Cirebon khususnya dan para peziarah dari kota lain yang datang ke tempat ini, diyakini merupakan wasiat terakhir Sunan Gunung Jati tak lama menjelang beliau wafat.

Secara harfiah arti dari wasiat tersebut ialah, “Saya titip tajug (sejenis mushalla atau langgar yang dipergunakan pula sebagai tempat aktivitas mengaji) dan fakir miskin.”

Lewat wasiat dimaksud, Sunan Gunung Jati berpesan kepada umat Islam secara umum agar sepeninggal beliau keberadaan tajug dan fakir miskin senantiasa diopeni, dijaga, dan diperhatikan.

Dengan kata lain jangan sampai keduanya diterlantarkan begitu saja.

Namun jika ditinjau dalam konteks yang lebih luas di masa kita saat ini, maka maksud dari kalimat tersebut bukan lagi semata-mata wasiat agar kaum Muslimin menjaga mushalla dan langgar atau surau saja.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Anita K Wardhani
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas