Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Launching Program Ramadan di Rumah, Muhammadiyah: Saatnya Tingkatkan Kesalehan Sosial

Pimpinan Pusat Muhammadiyah melaunching program 'Ramadan di Rumah' melalui video conference, Rabu (22/4/2020).

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Launching Program Ramadan di Rumah, Muhammadiyah: Saatnya Tingkatkan Kesalehan Sosial
Youtube/Muhammadiyah Channel
Ketua MCCC PP Muhammadiyah Agus Syamsuddin mengajak umat muslim di Indonesia untuk menerapkan kesalehan sosial dalam memasuki bulan Ramadan 1441 hijriyah tahun ini. 

Tadarus Al Quran pun disebut Arif dapat dilaksanakan di rumah.

Arif juga mengungkapkan, masjid harus tetap berfungsi di bulan Ramadan.

Namun, tidak untuk ibadah berjamaah.

"Tapi untuk syiar Ramadan, masjid dijadikan pusat untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19 ini," ujarnya.

Lebih lanjut, Arif juga meminta agar para pimpinan perserikatan untuk mengajak warga Muhammadiyah maupun seluruh umat Islam untuk bersama-sama menghadapi Covid-19.

"Pimpinan perserikatan perlu mendorong bersama-sama menghadapi Covid-19 ini," ujarnya.

Pendapat Ketum Muhammadiyah

Ketua Pusat Pimpinan (PP) Muhammadiyah Haedar Nasir di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019).
Ketua Pusat Pimpinan (PP) Muhammadiyah Haedar Nasir di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019). (TRIBUNNEWS/RINA AYU PANCA RINI)
Rekomendasi Untuk Anda

Sementara itu, Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir meminta agar umat Islam bertindak dengan mempertimbangkan kepentingan yang lebih luas.

Hal ini sehubungan dengan masih adanya sebagian umat yang ingin salat berjamaah di masjid.

“Jangan semuanya disikapi seolah normal, karena kondisi saat ini darurat. Apa tidak melihat kenyataan betapa dahsyatnya wabah Corona ini, Amerika Serikat saja terbesar korban meninggal," ungkap Haedar, Rabu (22/4/2020) dilansir muhammadiyah.or.id.

Haedar meminta agar tidak menyepelekan wabah Covid-19.

"Kalau Indonesia tidak sebesar AS dan negara lain jumlahnya, justru kita harus tetap waspada dan melakukan pencegahan."

"Ini bukan soal takut atau berani hadapi wabah, tetapi soal ikhtiar yang dari segi agama maupun ilmu dibenarkan untuk usaha mencegah datangnya wabah agar tidak semakin luas,” jelas.

Haedar juga menjelaskan pilihan ibadah di rumah sudah berlaku di seluruh dunia Islam.

Masjdil Haram dan Masjid Nabawi saja tidak dipakai jumatan dan tarawih.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas