Green Ramadan: Kesalehan Spiritual dan Etika Ekologis
Green Ramadan ajak umat Islam ubah kesalehan jadi etika ekologis: kurangi sampah, hemat air, dan cegah pemborosan.
Editor:
Glery Lazuardi

SEJAK Januari hingga Maret tahun ini, saya mengikuti rangkaian konferensi dan loka karya internasional Preparing Religious Environmental Plans (PREP), sebuah program yang diinisiasi oleh Loka Initiative bekerjasama dengan University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat.
Forum ini mempertemukan akademisi, aktivis lingkungan, dan pemimpin komunitas lintas dari berbagai negara.
Bagi saya, rangkaian pertemuan tersebut bukan sekadar ruang diskusi akademik. Ia menjadi ruang refleksi.
Banyak isu global dibicarakan—keadilanenergi, krisis air, pengelolaan sampah, ketahanan pangan, hingga pera rumah ibadah dalam membangun budaya keberlanjutan. Namun, satu tema terasa sangat dekat dengan realitas keseharian umat Islam Indonesia: Green Ramadan.
Gagasan ini menempatkan Ramadan bukan hanya sebagai bulan peningkatan ibadah personal, tetapi juga sebagai momentum pembentukan etika ekologis bersama. Sebuah pergeseran makna yang, menurut saya, semakin mendesak.
Ramadan dan Paradoks Konsumsi
Ramadan dikenal sebagai bulan pengendalian diri. Umat Islam menahan lapar, dahaga, dan dorongan konsumtif sejak fajar hingga matahari terbenam. Secara ideal, puasa membentuk manusia yang lebih sederhana.
Namun dalam praktik sosial, saya sering menyaksikan fenomena yang berbeda. Ramadan justru menjadi periode lonjakan konsumsi.
Pasar takjil ramai. Buka puasa bersama berlangsung hampir setiap malam. Di sekitar masjid dan ruang publik, tumpukan botol plastik, gelas minuman sekali pakai, kantong kresek, dan sisa makanan menjadi pemandangan yang akrab.
Paradoks ini perlu dibaca secara jujur. Di satu sisi, Ramadan mengajarkan kesederhanaan dan empati terhadap mereka yang kekurangan. Di sisi lain, praktik sosial yang berkembang kadang justru memperlihatkan pola konsumsi berlebih.
Di sinilah Green Ramadan menemukan relevansinya. Ia bukan sekadar kampanye lingkungan musiman, melainkan upaya menafsirkan kembali makna puasa dalam konteks krisis ekologis global.
Dari Kesalehan Individual ke Kesalehan Ekologis
Dalam tradisi Islam, tujuan utama puasa adalah pembentukan takwa—kesadaranakan kehadiran Tuhan dalam seluruh dimensi kehidupan. Jika kesadaran ini sungguh-sungguh diinternalisasi, maka relasi manusia dengan bumi seharusnya menjadi bagian integral dari praktik keimanan.
Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia tidak berbuat israf (berlebihan) (QS. Al-A‘rāf: 31) dan tidak menimbulkan fasad (kerusakan) di bumi (QS. Al-Baqarah: 60). Pesan ini tidak bersifat simbolik. Ia berkaitan langsung dengan cara manusia memproduksi, mengonsumsi, dan membuang.
Green Ramadan mengajak memperluas makna kesalehan. Kesalehan tidak berhenti pada ritual personal, tetapi menjelma dalam tanggung jawab sosial dan ekologis.
1) Mengurangi sampah adalah ibadah.
2) Menghemat air adalah ibadah.