Green Ramadan: Kesalehan Spiritual dan Etika Ekologis
Green Ramadan ajak umat Islam ubah kesalehan jadi etika ekologis: kurangi sampah, hemat air, dan cegah pemborosan.
Editor:
Glery Lazuardi
3) Menghindari pemborosan adalah ibadah.
Kalimat-kalimat sederhana ini penting untuk terus diulang di ruang-ruang keagamaan.
Takjil dan Etika Konsumsi Baru
Takjil merupakan simbol khas Ramadan di Indonesia. Ia merepresentasikan keramahan, kebersamaan, dan kegembiraan berbagi.
Namun, ekosistem takjil juga menjadi salah satupenyumbangutamasampahplastikselama Ramadan. Setiap sore, ribuankemasanplastikdigunakanhanyauntukbeberapamenitkonsumsi.
Dalam diskusi PREP, pendekatan yang dianggap realistis adalah memulai dari skala kecil.
Misalnya, tiga hingga lima pedagang takjil atau tiga hingga lima masjid sebagai proyek percontohan selama dua minggu pertama Ramadan.
Indikator keberhasilan dibuat sederhana:
- berapa banyak plastik yang berkurang,
- berapa botol yang tidak lagi digunakan,
- dan bagaimana respons masyarakat.
Pendekatan berbasis data ini penting. Ia menunjukkan bahwa perubahan bukan sekadar wacana moral, tetapi sesuatu yang bisa diukur.
Masjid sebagai Pusat Transformasi
Masjid memiliki posisi strategis dalam membentuk budaya. Ia bukan hanya tempat salat, tetapi juga ruang pendidikan dan interaksi sosial.
Dalam kerangka Green Ramadan, masjid dapat menjadi laboratorium keberlanjutan. Langkahnya tidak harus rumit.
1) Menyediakan tempat sampah terpilah.
2) Memasang stasiun isi ulang air minum.
3) Mendorong jamaah membawa botol sendiri.
4) Mengelola sisa makanan menjadi kompos.
Saya pernah berdialog dengan beberapa pengelola masjid di Pontianak. Sebagian besar sebenarnya setuju dengan gagasan ini. Tantangannya bukan pada penolakan, tetapi pada kebiasaan lama yang sudah mengakar.Karena itu, perubahan harus dilakukan secara bertahap.