Fenomena Kenaikan Berat Badan Saat Puasa Ramadan
Kenaikan atau penurunan berat badan selama puasa seharusnya dilihat sebagai bagian dari proses memahami tubuh sendiri.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Puasa sering dianggap sebagai momen alami untuk menurunkan berat badan. Namun, tak sedikit orang justru kaget ketika angka di timbangan naik selama Ramadan.
Fenomena ini memicu kekhawatiran, padahal secara medis kenaikan berat badan saat puasa tidak selalu berarti penumpukan lemak.
Kunci utamanya ada pada cara membaca perubahan tubuh, pola makan saat berbuka dan sahur, serta strategi menjaga energi tanpa harus memaksakan olahraga berat.
Banyak orang langsung panik saat melihat berat badan meningkat. Padahal, angka di timbangan tidak bisa membedakan apakah yang bertambah adalah lemak atau massa otot.
Baca juga: Tips Atur Makan dan Komposisi Gizi Pasien Diabetes selama Ramadan
Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga yang berpraktik di RS Pondok Indah (RSPI),dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O.
“Tapi jangan digeneralisasikan bahwa kenaikan berat badan itu artinya kenaikan masa lemak semua. Tapi bisa juga masa ototnya juga naik, ya kita nggak tahu gitu ya,"ungkapnya dalam media briefing virtual yang diselenggarakan RS Pondok Indah, Rabu (18/2/2026).
Karena itu, ukuran yang lebih relevan untuk memantau perubahan tubuh adalah lingkar pinggang. Lingkar pinggang membantu membaca apakah kenaikan berat badan tergolong sehat atau tidak.
Jika lingkar pinggang bertambah, biasanya lemak tubuh ikut meningkat. Sebaliknya, bila lingkar pinggang mengecil meski berat badan naik, ada kemungkinan massa otot yang bertambah.
Artinya, kenaikan berat badan tidak otomatis menjadi sinyal buruk.
Pola Makan Saat Buka: Titik Kritis Kenaikan Berat Badan
Salah satu penyebab utama kenaikan berat badan saat puasa adalah pola makan yang tidak terkendali saat berbuka. Banyak orang cenderung “balas dendam” setelah seharian menahan lapar.
“Pola makannya itu biasanya orang itu pada waktu buka puasa itu kayak kalap. Nah, kalapnya itu diisi dengan karbohidrat yang sederhana semua gitu,"imbuhnya.
Karbohidrat sederhana dengan indeks glikemik tinggi memang cepat membuat kenyang, tetapi juga cepat memicu rasa lapar kembali. Akibatnya, asupan kalori menjadi berlebihan.
Saat berbuka, tubuh lebih diuntungkan dengan karbohidrat kompleks yang memberi energi lebih stabil.
Baca tanpa iklan