Jadwal Buka Puasa Kabupaten Mamuju Hari Ini Minggu, 22 Februari 2026
Berikut jadwal berbuka puasa untuk umat Islam di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, pada hari ini, Minggu (22/2/2026).
Penulis:
Faryyanida Putwiliani
Editor:
Febri Prasetyo
Menurut hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, orang yang paling berhak mendapat sedekah adalah anak, istri, pembantu, dan kerabat terdekat. Imam Muslim juga meriwayatkan bahwa: “Sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada kerabat yang wajib ia nafkahi.”
Abu Zar Al-Ghifari berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang wajib bersedekah untuk dirinya pada setiap hari.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, dari mana aku bersedekah sementara aku tidak memiliki harta?”
Beliau menjawab: “Di antara pintu sedekah adalah membaca takbir, tasbih, tahmid, tahlil, istigfar; mencegah perbuatan mungkar; menyingkirkan duri, tulang, dan batu dari jalan manusia; membimbing orang buta; sabar menjelaskan kepada orang tuli dan orang bisu hingga paham; menunjukkan orang yang meminta petunjuk atas suatu kebutuhan yang telah kamu ketahui tempatnya; berjalan dengan kekuatan kedua kakimu untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan; dan membantu orang yang lemah dengan kekuatan kedua tanganmu untuk mengangkat sesuatu. Semua itu adalah bagian dari pintu-pintu sedekahmu untuk dirimu. Kamu dalam menggauli istrimu pun berhak mendapat pahala.” (HR Muslim).
Sedekah yang diberikan tersebut, baik berupa barang maupun jasa, hendaknya milik sendiri, berstatus halal, diserahkan secara patut, disertai niat ikhlas. Orang yang bersedekah dianjurkan untuk tidak menyebut-nyebut sedekahnya kepada orang yang ia sedekahi, tidak menyakiti hatinya, dan tidak pamer dengan sedekahnya itu (QS. 2:264).
Selain bersedekah, hendaknya disertai tadarus Al-Qur’an. Makna tadarus Al-Qur’an adalah membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Tadarus Al-Qur’an dengan cara demikian akan mendatangkan hikmah tersendiri dalam diri para saimin, di antaranya melahirkan rasa cinta dan kerinduan kepada Rabbul ‘Izzati, menghadirkan dalam diri sikap tawadhu, khusyuk, syukur, dan sabar, serta seluruh sifat dan perasaan yang dapat mengantarkan pada cinta dan ridha Ilahi Rabbi (Ibnu Rajab: 114).
Al-Qur’an adalah kitab suci yang harus dibaca dan juga dipahami. Fakta menunjukkan banyak yang rajin membaca Al-Qur’an, namun masih sedikit keinginan untuk memahami isinya sehingga kurang bersemangat mengamalkannya.
Untuk itu, biasakan juga membaca terjemahannya untuk membantu pemahaman. Memang pada awalnya akan terasa sulit mencerna maksud terjemahan Al-Qur’an, namun jika kita sering membacanya, lama-kelamaan akan terasa mudah memahaminya.
Baca juga: Urutan Buka Puasa Sesuai Sunah Rasul, Jangan Sampai Terbalik
7. Bersungguh-sungguh beribadah dalam sepuluh hari terakhir
Allah SWT berfirman: “... laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. 33:35)
Aisyah RA menceritakan bahwa: “Apabila sepuluh hari akhir bulan Ramadan tiba, Nabi SAW menghidupkan malam, membangunkan keluarga beliau, dan bersungguh-sungguh dalam bertakarrub kepada Allah.” (HR Bukhari Muslim)
Pada hadis lain diterangkan: “Sepuluh hari pertama Ramadan adalah rahmat, sepuluh hari kedua adalah magfirah, dan sepuluh hari terakhir pembebasan dari api neraka.” (HR Bukhari)
“Bulan Ramadan adalah bulan penuh berkah. Allah telah mewajibkan kalian berpuasa (di siang hari), dan aku sunnahkan kalian begadang (di malam hari) untuk melakukan qiyamullail. Siapa yang berpuasa dan melakukan qiyamullail atas dasar keimanan dan penuh keikhlasan, ia akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia dilahirkan ibunya.” (HR Ibnu Khuzaimah)
“Barang siapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan ingin memperoleh pahala, maka dosa-dosanya yang telah berlalu diampuni.” (HR Bukhari Muslim)
Dalil-dalil di atas mengisyaratkan kepada kita para saimin bahwa pada sepuluh hari akhir bulan Ramadan hendaknya kita, bersama seluruh keluarga, lebih intensif mendekatkan diri kepada Allah, baik melalui ibadah mahdah seperti beri’tikaf dan qiyamullail, maupun melaksanakan ibadah sosial kemasyarakatan lainnya, seperti bergotong royong bersih-bersih di lingkungan masjid dan tempat tinggal, bersedekah, atau menolong mereka yang berkesusahan, dengan harapan dan keyakinan penuh bahwa Allah SWT akan mengampuni semua dosa yang telah lalu, memberikan rahmat dan pahala yang besar, serta membebaskan kita semua dari azab neraka.
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani)