Langkah Utama Memperbaiki Kualitas Puasa di Bulan Ramadan, Hadirkan Hati saat Berdzikir
Menghadirkan hati atau istihdhor dalam berdzikir menjadi kunci perbaikan kualitas ibadah, termasuk puasa, bagi seorang mukmin.
Penulis:
Guruh Putra Tama
Editor:
Dwi Setiawan
Hati-lah yang mendorong kaum muslimin untuk mau berbuat baik atau menaati perintah penciptanya.
Sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
'Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati,' (hadits riwayat Bukhari no. 6407 dan Muslim no. 779).
Berdasarkan hadits tersebut, manusia yang menjalani kehidupannya tanpa berdzikir tak ada bedanya dengan mayat berjalan.
Ia masih bisa makan, bernafas, dan bekerja tetapi hatinya kering dari mengingat Allah.
Dengan rutin berdzikir, hati manusia tak akan kering dan mati, sebaliknya, malah akan menjadi kuat.
Barangkali ada yang menganggap berdzikir itu ibadah yang melelahkan.
Anggapan itu bisa disanggah dengan sebuah hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
'Hendaklah lisanmu senantiasa basa dengan dzikir kepada Allah' hadits riwayat Tirmidzi no. 3375.
Hal yang diperintahkan Allah dan Rasul, pada dasarnya, tak ada yang memberatkan manusia.
Semua perintah yang datang berasal dari wahyu sang Pencipta Langit dan Bumi yang mengetahui seluk beluk makhluk ciptaannya.
Dengan adanya anjuran banyak berdzikir itu, manusia sejatinya tak akan terbebani.
Cukup dengan menggerakkan lisan, manusia sudah bisa melakukan ibadah tersebut.
Salah satu teladan paling luar biasa dari kekuatan hati ini adalah dari sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi Wa Sallam bernama Abdullah bin Umi Maktum.
Abdullah bin Umi Maktum adalah seorang yang buta, lemah secara fisik, tetapi masih ikut berjihad lantaran tekad hati yang kuat.