Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Amalan Sunyi, Menahan Lisan di Bulan Ramadhan Agar Puasa Tak Sia-sia

Muslim yang sejati tidak hanya berpuasa dari menahan lapar dan haus di bulan Ramadan, namun juga menahan lisan dari perkataan dosa dan sia-sia.

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sri Juliati

Allah memerintahkan Maryam untuk bernazar tidak berbicara kepada siapa pun.

“Aku bernazar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa, maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan siapa pun,” demikian pesan yang disampaikan dalam Surah Maryam.

Bagi KH Miftah, dua kisah ini menunjukkan bahwa puasa bicara bukan sekadar diam, melainkan bentuk kepasrahan total kepada Allah. 

Dalam situasi penuh harap maupun penuh cemas, menahan lisan menjadi jalan mendekatkan diri kepada-Nya.

Mengapa Menahan Lisan Itu Penting?

Manusia, kata KH Miftah, adalah makhluk yang hampir tidak pernah berhenti berbicara—bahkan dalam pikirannya sendiri. 

Riuh kata-kata dalam kepala sering kali melahirkan kecemasan, kekhawatiran, bahkan memperkeruh doa.

“Ketika kita berhenti berbicara, berhenti riuh rendah di kepala kita, pada saat yang sama kita belajar untuk lebih berserah diri kepada Allah,” jelasnya.

Rekomendasi Untuk Anda

Selama bulan Ramadan, setan dibelenggu. Artinya, dorongan untuk berbuat buruk melemah. 

Termasuk dorongan untuk menggunjing, menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, atau berbicara yang menyakiti orang lain.

“Pada saat lisan berkurang aktivitasnya, ruh kita justru menguat,” tegas KH Miftah yang juga Ketua Yayasan Muthahhari Bandung.

Puasa Bicara di Era Digital

KH Miftah juga mengingatkan bahwa puasa bicara tidak hanya berlaku pada lisan, tetapi juga pada jari jemari.

Di era digital, menahan diri berarti membatasi apa yang ditulis, dipublikasikan, dan disebarkan di media sosial.

“Puasa bicara bukan hanya dengan lisan kita, puasa bicara juga dengan jari jemari kita,” pesannya.

Artinya, Ramadan adalah momen untuk menyaring setiap kata, setiap unggahan, setiap komentar. 

Beliau mengajak muslim untuk introspeksi diri, apakah komentar yang dituliskan mendekatkan diri pada kebaikan? Ataukah justru menambah keruh suasana?

Mendekatkan Diri pada Ijabah Doa

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Terkini
Atas