Amalan Sunyi, Menahan Lisan di Bulan Ramadhan Agar Puasa Tak Sia-sia
Muslim yang sejati tidak hanya berpuasa dari menahan lapar dan haus di bulan Ramadan, namun juga menahan lisan dari perkataan dosa dan sia-sia.
Penulis:
Yunita Rahmayanti
Editor:
Sri Juliati
Ringkasan Berita:
- Puasa bukan hanya merupakan ibadah yang menahan lapar dan minum, melainkan juga menahan lisan dari ucapan dosa dan sia-sia.
- Dalam banyak kisah, Islam mengajarkan pentingnya menahan lisan agar tidak menjadi hamba yang merugi.
- Bulan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk belajar menjaga ucapan dan hati agar doa kita lebih mudah dikabulkan Allah SWT.
TRIBUNNEWS.COM - Bulan suci Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga.
Lebih dari itu, Ramadan adalah madrasah pengendalian diri—termasuk dalam menjaga lisan.
Dalam ceramah berjudul “Amalan Sunyi Menahan Lisan di Bulan Ramadan” yang tayang di YouTube Tribunnews program Mutiara Ramadan 2026, KH Miftah F. Rakhmat mengajak umat Islam merenungkan satu bentuk puasa yang jarang disadari, yakni puasa bicara.
Ia membuka ceramahnya dengan sebuah pertanyaan sederhana namun menggugah, “Puasa seperti apa yang pada puasa itu kita boleh menikmati makan dan minum?”
Jawabannya ternyata bukan puasa dalam arti menahan lapar, melainkan puasa menahan lisan.
Kisah Nabi Zakaria: Doa dan Puasa Bicara
KH Miftah mengisahkan Nabi Zakaria AS yang diuji dengan penantian panjang akan keturunan.
Dalam usia senja, dengan rambut memutih dan tubuh renta, Nabi Zakaria tak henti berdoa. Hingga akhirnya Allah mengabulkan permintaannya.
Namun sebelum kabar gembira itu terwujud sepenuhnya, Allah memberikan sebuah tanda, yaitu Nabi Zakaria diminta untuk tidak berbicara selama tiga hari, kecuali dengan isyarat.
“Inilah yang sering disebut dengan puasa bicara,” ujar KH Miftah.
Baca juga: 4 Manfaat Utama Puasa Ramadan, Ajarkan Empati hingga Kendalikan Hawa Nafsu
Puasa yang tidak melarang makan dan minum, tetapi menahan lisan dari berbicara.
Ia menekankan bahwa dalam kisah ini terdapat pelajaran penting, yaitu ketika doa dipanjatkan, ada amalan yang mengiringinya.
Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa amal saleh mendorong doa naik lebih tinggi.
Salah satu amal itu adalah menahan diri dari berbicara yang tidak perlu.
Siti Maryam dan Ujian yang Berat
Kisah serupa juga terjadi pada Siti Maryam AS.
Saat melahirkan Nabi Isa AS tanpa kehadiran seorang ayah, ia menghadapi ujian sosial yang sangat berat.
Baca tanpa iklan