Menteri Agama Soroti Hate Speech di Ramadan, Jangan Sampai Merusak Persatuan Bangsa
Dalam literatur Islam, ujaran kebencian memiliki padanan paling dekat dengan istilah hasud. Hasud berarti menghasut orang lain agar ikut membenci.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Willem Jonata
“Sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan seperti mana api memakan kayu bakar,"ungkap Nasaruddin pada keterangannya, Minggu (1/3/2026).
Hadis ini menggambarkan betapa kebencian bukan hanya melukai orang lain, tetapi juga menghanguskan kebaikan pelakunya sendiri.
Al-Qur’an juga mengajarkan perlindungan dari orang yang dengki:
“Wa minsyarri hasidin idza hasad”.
Selain itu, Al-Qur’an mengingatkan agar kebencian tidak mendorong seseorang berlaku tidak adil.
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil,"imbuhnya.
Pesan ini menegaskan bahwa kebencian adalah pintu masuk ketidakadilan. Ketika prasangka, gunjingan, dan hasutan dibiarkan, masyarakat kehilangan keseimbangan sosialnya.
Ramadan dan Kontrol Diri
Ramadan menjadi momentum refleksi. Menahan lisan sama pentingnya dengan menahan lapar.
Ujaran kebencian bukan sekadar pelanggaran etika komunikasi, tetapi ancaman nyata terhadap harmoni sosial.
Terutama jika dibungkus sentimen agama yang sensitif dan mudah menyulut emosi publik.
Karena itu, jika ingin meraih ketenangan dan keberuntungan, menjauhi ujaran kebencian, khususnya yang berlatar belakang agama, menjadi keharusan.
Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Dan di era digital, pengendalian itu dimulai dari satu hal sederhana.
Berpikir sebelum berbicara, memastikan kata-kata tidak berubah menjadi api yang membakar persaudaraan.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)