Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar Tapi Latihan Mendekati Tuhan
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat melihat puasa dari sisi yang lebih dalam, belajar dan meneladani sifat-sifat Tuhan.
Penulis:
Aisyah Nursyamsi
Editor:
Anita K Wardhani
“Tetapi lebih menonjol sebagai Tuhan Maha Pencinta dan Maha Penyayang. Apalagi terhadap manusia yang Allah ciptakan dengan cinta,"ungkap Nasaruddin pada keterangannya, Senin (2/2/2026).
Ia juga mengingatkan bahwa manusia ditegaskan sebagai ciptaan yang dibuat dengan “kedua tangan”-Nya.
Sebagaimana firman Allah: Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". (Q.S. Shad/38:75).
Penegasan ini tidak disebutkan untuk makhluk lain. Seolah-olah manusia adalah ciptaan langsung (hand made) Allah SWT.
Jalaliyyah dan Jamaliyyah dalam Diri Manusia
Makna “kedua tangan Tuhan” dalam khazanah tafsir dan tasawuf dimaknai sebagai simbol kekuatan maskulin (jalaliyyah) dan kekuatan feminin (jamaliyyah). Keduanya tercermin dalam al-Asma’ al-Husna, nama-nama indah Allah.
Dalam perspektif tasawuf, al-asma’ al-husna bukan sekadar daftar sifat Tuhan, melainkan pintu masuk untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya.
Seseorang yang pernah berbuat salah pun tidak perlu kehilangan harapan. Ia dapat membangun kembali rasa percaya diri dengan mengidentifikasi diri pada nama al-Gafur (Maha Pengampun) dan al-Tawwab (Maha Penerima Taubat).
Kasih sayang Tuhan bahkan lebih dominan. Hampir setiap surah Alquran diawali dengan Bismillah al-rahman al-rahim, yang menegaskan kemahapengasihan dan kemahapenyayangan-Nya.
Ramadan, Oase yang Melembutkan Jiwa
Ramadan secara harfiah berarti penghancur atau penghangus.
Setelah sebelas bulan manusia berada dalam kehidupan yang keras dan penuh pertarungan (power struggle), Ramadan hadir sebagai ruang kembali ke kampung halaman rohani yang menyejukkan.
Bulan puasa diibaratkan sebagai oase spiritual bagi mereka yang menjalaninya dengan ikhlas dan sepenuh hati.
Namun di bagian akhir refleksinya, Nasaruddin mengingatkan ironi yang kerap terjadi.
Tuhan menampilkan diri dengan kelembutan, ayat-ayat Alquran menyapa dengan santun, dan Nabi Muhammad SAW mencontohkan kesantunan.
Tetapi sebagian perilaku umat justru bertentangan dengan sifat-sifat tersebut.
Islam tidak pernah menolerir tindakan kekerasan, bukan karena alasan diplomasi, melainkan karena kekerasan tidak sejalan dengan sifat-sifat utama Tuhan sebagaimana diperkenalkan dalam al-asma' al-husna'-Nya.
Ramadan menjadi pengingat bahwa puasa bukan hanya ritual fisik. Ia adalah latihan karakter, menumbuhkan kasih, pengampunan, kelembutan, dan kedekatan dengan Tuhan.
Karena semakin dekat seorang hamba kepada Tuhannya, semakin mulia pula dirinya.