Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Ahli Kejiwaan RSHS: Orientasi Seksual Emon Sulit Diubah

Ahli Kejiwaan dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Teddy Hidayat, menilai pengidap paedofilia seperti Emon sulit untuk disembuhkan.

zoom-in Ahli Kejiwaan RSHS: Orientasi Seksual Emon Sulit Diubah
kompas.com
Foto Andri Sobari alias Emon (24), pelaku tindak kekerasan seksual kepada puluhan anak di wilayah Sukabumi dan sekitarnya, beredar melalui jejaring sosial Twitter. 

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Ahli Kejiwaan dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Teddy Hidayat, menilai pengidap paedofilia seperti Emon sulit untuk disembuhkan.

Menurutnya, dorongan birahi yang lebih kuat kepada anak-anak laki-laki, mampu mengalahkan niat pengidap homoseksual paedofilia untuk sembuh.

"Secara umum, paedofilia sulit disembuhkan, kecil kemungkinan bisa kembali lagi (normal)," kata Teddy di RSHS Bandung, Rabu (7/5/2014).

Teddy menambahkan, ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk mengembalikan perilaku seksual pengidap homoseksual paedofilia.

Pertama, lanjutnya, adalah dengan menggunakan metode psikoterapi yang lebih mengedepankan wawancara. Selain itu, ada pula terapi menggunakan obat-obatan.

Namun, kata dia, kedua metode tersebut tidak efektif. Menurut Teddy, terapi yang paling ampuh adalah dengan menggunakan metode behavior teraphy. Dalam metode tersebut, pengidap paedofilia akan dipantau kegiatan seksualnya.

Ketika dorongan birahi untuk menyetubuhi anak-anak muncul, pasien akan diberikan stimulan rasa sakit sebagai hukuman. Dengan demikian, setiap tiap kali dorongan seksual itu muncul kembali, pengidap paedofilia akan membayangkan rasa sakit atau getir.

Berita Rekomendasi

"Seperti asuh lumba-lumba saja, ada reward and punsihment. Begitu dorangan (seksual) muncul kemudian disetrum dengan voltase tertentu," bebernya.

Meski metode tersebut cukup efektif, namun terapi tersebut harus dilakukan dengan jangka waktu yang cukup panjang. Kebanyakan pasien akan jenuh dan kabur dari terapi karena dorongan seksual yang tidak dapat ditahan lagi.

Sumber: Kompas.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas