Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Tak Ada Saksi Mata, Polisi Kesulitan Ungkap Pembunuh Mahasiswa Papua

Kepolisian masih berusaha keras mengungkap misteri di balik kematian mahasiswa asal Papua, Nius Lokobal (22), Minggu (25/7/2015) dini hari lalu.

Editor: Dewi Agustina
zoom-in Tak Ada Saksi Mata, Polisi Kesulitan Ungkap Pembunuh Mahasiswa Papua
JITET
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Manado, Finneke Wolajan

TRIBUNNEWS.COM, MANADO - Kepolisian masih berusaha keras mengungkap misteri di balik kematian mahasiswa asal Papua, Nius Lokobal (22), Minggu (25/7/2015) dini hari lalu, sekitar pukul 02.30 Wita. Hingga Rabu (29/7/2015), siapa pelaku pembunuhan tersebut masih misterius.

Dari informasi yang dirangkum, tim dari Polresta Manado dan Polsek Malalayang yang tergabung dalam satgas khusus untuk mengungkap kasus ini telah menyisir semua potensi yang bisa memberi titik terang dalam kasus ini.

Seperti para saksi di sekitar lokasi kejadian serta kerabat korban telah dimintai keterangan. Namun karena tak ada satu saksi mata pun yang melihat langsung kejadian itu, sehingga polisi masih kesulitan mengungkapnya.

Kapolresta Manado Kombes Pol Rio Permana yang dikonfirmasi melalui Kasat Reskrim Kompol Erson Sinaga mengatakan pihaknya masih berupaya keras mengungkap kasus ini. Kasus ini sudah ditangani Polsek Malalayang dan sedang dalam pengembangan untuk mengungkap kasus tersebut.

"Sudah kami turunkan tim untuk mengungkap kasus ini secepatnya," tandasnya.

Korban yang merupakan mahasiswa Universitas Pembangunan Manado ini ditemukan terbujur kaku bersimbah darah di Jalan Pulau Peleng, Kelurahan Kleak, Lingkungan II, Kecamatan Malalayang, sekitar pukul 02.30 Wita. Nius yang tinggal di Asrama Jayawijaya, Kelurahan Batukota, Lingkungan II, Kecamatan Malalayang ini tewas akibat satu tikaman di perut bagian atas.

Saat itu, dua saksi yang adalah teman korban, masing-masing Rayen Bagensa (22), warga Batukota Lingkungan III dan Septiano Kapele (18) warga Kelurahan Bahu Lingkungan IX Kecamatan Malalayang, membeli minuman di warung yang tak jauh dari lokasi kejadian.

Saat kembali, keduanya menemukan korban sudah bersimbah darah. Saat itu juga kedua saksi memanggil warga sekitar. Mendengar teriakan kedua saksi, warga sekitar langsung berbondong-bondong datang ke lokasi kejadian.

Di dekat lokasi kejadian, warga menemukan handphone jenis Samsung dan sandal. Korban lalu dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Kandou Malalayang, namun meninggal dalam perjalanan.

Sumber: Tribun Manado
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas