Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Penderita Penyakit Kaki Gajah di Wilayah Jatim Terus Meningkat

naiknya penderita penyakit kaki gajah setelah ditemukan 10 kasus penderita baru, salah satu penyakit langka tersebut.

Penderita Penyakit Kaki Gajah di Wilayah Jatim Terus Meningkat
Bioproduk
Penyakit Kaki Gajah 

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA- Jumlah penderita penyakit kaki gajah atau filariasis terus meningkat dari tahun ke tahun.Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemprov Jatim menyebutkan, jika tahun 2013 terdapat 358 kasus, tahun 2014 naik menjadi 364 kasus. Tahun 2015 ini, hingga bulan September, kasus filariasis naik lagi menjadi 374.

Kepala Dinkes Pemprov Jatim dr Harsono mengatakan, naiknya penderita penyakit kaki gajah setelah ditemukan 10 kasus penderita baru, salah satu penyakit langka tersebut.

Sepuluh penderita baru itu tersebar di Bondowoso 1 orang, Kediri 2, Malang 2, Nganjuk 1, Probolinggo 2, dan Trenggalek 2 orang.

"Temuan ini cukup besar, karena tahun lalu (2014), hanya ada enam kasus baru yang berhasil ditemukan," ujarnya, Minggu (11/10/2015).

Saat ini, dari 374 kasus penyakit kaki gajah di Jatim, penderita paling banyak ada di Lamongan 56 orang, Malang 39, Ponorogo 32, dan Tuban 25 orang penderita.

Dari 38 kabupaten/kota di Jatim, hanya Kota Blitar, Gresik, dan Kota Mojokerto saja yang bebas kasus penyakit kaki gajah.

"Untuk Surabaya, meski kota besar ternyata masih ditemukan tiga orang penderita kasus filariasis," tegas Harsono.

Penularan penyakit kaki gajah disebabkan tiga spesies cacing filarial, yaitu Wuchereria Bancrofti, Brugia Malayi, Brugia Timori.

Cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia, terutama dalam kelenjar getah bening dan darah.

Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar getah bening manusia selama 4 – 6 tahun dan dalam tubuh manusiacacing dewasa betina menghasilkanjutaan anak cacing (microfilaria) yang beredar dalam darah terutama malam hari.

Seseorang dapat tertular atau terinfeksi filariasis jika orang tersebut digigit nyamuk yang sudah terinfeksi, yaitu nyamuk yang dalam tubuhnya mengandung larva (L3).

dr Harsono berharap, dengan kerjasama yang apik antara pemerintah, masyarakat, dan stakeholders terkait, penemuan dan pengobatan penderita filariasis dapat segera dituntaskan.

Pasalnya, sampai saat ini masih banyak penderita yang enggan memeriksakan penyakitnya ke puskesmas dan rumah sakit.

Editor: Sugiyarto
Sumber: Surya
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas