Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

'Rumah Hantu' Sembilan Desa Mengganjal Proyek Jalan Lingkar Jatigede

Munculnya sejumlah 'rumah hantu' di sembilan desa sedikit banyak mengganjal proyek pembangunan Jalan Lingkar Jatigede, Sumedang, Jawa Barat.

'Rumah Hantu' Sembilan Desa Mengganjal Proyek Jalan Lingkar Jatigede
TRIBUN/GANI KURNIAWAN
Warga mengendarai kendaraan bermotor di jalan tanah yang melintang di area Bendungan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Minggu (30/8/2015). Bendungan ini akan mulai ditutup Senin (31/8), diperkirakan akan menggenangi lebih kurang 4.000 ha selama satu tahun. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Deddy Rustandi

TRIBUNNEWS.COM, SUMEDANG – Munculnya sejumlah 'rumah hantu' sedikit banyak mengganjal proyek pembangunan Jalan Lingkar Jatigede di Sumedang, Jawa Barat.

Tentu saja ini bukan rumah hantu betulan karena yang dimaksud adalah rumah kosong yang sengaja dibangun pemiliknya supaya mendapat ganti rugi lebih dari pihak pengembang proyek.

Bayangkan saja, rumah hantu ini tersebar di sembilan desa, dibangun sejak 2008 lalu dan kondisinya menyisakan puing serta pondisi yang tampak asal-asalan.

"Pembangunan jalan lingkar Jatigede itu terkendala pembebasan lahan karena banyak bangunan tumbuh atau rumah hantu,” kata Kepala Bagian Tata Pemerintahan Pemkab Sumedang, Denny Tanrus, Selasa (19/1/2016).

Setidaknya masih ada 413 bidang di sembilan desa yang belum dibebaskan karena ada rumah hantu dan kebanyakan lahannya sudah dibebaskan.

"Tapi rumah tumbuh atau dikenal rumah hantunya belum dibebaskan,” beber dia.

Pernah ada alat berat yang akan meratakan tanah di lahan yang sudah dibebaskan tapi warga selalu menghentikan pekerjaan. 

"Pasalnya di atas lahan yang dibebaskan itu ada puing dan sisa rumah hantu yang belum dibayar. Warga menolak alat berat meratakan lahan karena bangunan di atas lahan itu belum dibayar,” kata Kasubag Administrasi Kependudukan dan Pertanahan, Khaidir Gumilar.

Bahkan, kata Khaidir, tak sedikit warga menyiasati untuk mendapat ganti rugi lebih besar dari pemerintah, sengaja menempelkan bangunan baru ke bangunan lama.

“Ada juga bangunan baru yang ditepelkan ke bangunan lama supaya saat diukur bangunan itu menjadi lebih luas,” terang Khaidir.

Pembangunan jalan lingkar ini harusnya sudah tuntas sehingga saat ketinggian air pada elevasi 245 meter, Jalan Lingkar Jatigede sudah bisa dipakai, sehingga arus lalu lintas Sumedang-Wado-Malangbong Garut tidak terganggu.

Sesuai jadwal mulai April, ruas jalan Sumedang–Malangbong, Garut mulai dari Sukamenak Darmaraja sampai Wado bakal segera tenggelam ditelan Bendungan Jatigede. 

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Y Gustaman
Sumber: Tribun Jabar
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas