Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Keluarga Titipkan Korban Polisi Cabul di Rumah Ketua KPPA Bali

Keluarga menitipkan BW di rumah Ketua Kelompok Perlindungan Perempuan dan Anak (KPPA) Bali, Ni Nyoman Suparni di Karangasem, Bali.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Keluarga Titipkan Korban Polisi Cabul di Rumah Ketua KPPA Bali
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ketua KPPA Bali, Ni Nyoman Suparni (kiri), mendampingi BW (17), korban pencabulan oknum polisi, saat akan menjalani pemeriksaan di Mapolda Bali, Denpasar, Selasa (14/6/2016). Korban bersama pendamping membawa sejumlah barang bukti. 

Data yang dihimpun KPPA Karangasem, pelaku melancarkan tindakan bejatnya beberapa kali, di lima losmen yang berbeda.

Pertama di dalam warung milik pelaku, yang merupakan tempat kerja korban, di lingkungan Besang, Klungkung.

Beberapa losmen di Kabupaten Klungkung dan Gianyar, juga pernah dijadikan tempat untuk melakukan aksi bejatnya.

Tragisnya lagi, korban pernah dipaksa melayani pelaku di dalam mobilnya di sekitar Jl By Pass Prof IB Mantra, Ketewel, Gianyar.

Korban yang ketakutan, tak bisa berbuat apa-apa.

Masa-masa kelam selama kurang lebih enam tahun itu membuat kondisi mental dan psikis BW hancur lebur.

Sampai saat ini, setelah kasusnya dilaporkan ke Polda Bali, BW masih merasakan ketakutan.

Rekomendasi Untuk Anda

Selain itu juga rasa malu yang luar biasa setelah foto-foto bugilnya tersebar luas di Karangasem akibat ulah pelaku.

Aiptu KA sengaja menyebar foto-foto tersebut untuk mengintimidasi korban dan keluarganya agar tak melaporkan aksi bejatnya kepada institusinya.

Suparni yang menjadi pendamping saat melapor ke Polda Bali, membenarkan kondisi memprihatinkan BW.

Rasa takut dan trauma hingga kini masih dirasakan korban.

Saat pemeriksaan, menurut Suparni, sampai tiga kali korban tak bisa memberikan jawaban karena masih syok dan trauma dengan kejadian yang menimpanya.

"Saat tak bisa memberikan jawaban, BW kita tenangkan. Ketika diperiksa, korban nangis dulu karena takut. Rasa takut dan traumanya masih ada sampai sekarang," jelas Suparni.

Ia berharap kehadiran dokter jiwa dan psikolog bisa membantu memulihkan kondisi BW sehingga lebih siap menjalani pemeriksaan sekaligus mengungkapkan semua tindakan bejat pelaku terhadapnya selama bertahun-tahun.

Sementara Kuasa Hukum BW, Siti Sapurah, memiliki firasat kalau korban kebiadaban Aiptu KA bukan hanya BW seorang.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas