Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Lebaran 2016

Satu Gunungan Grebeg Syawal Jatuh, Rayi Dalem Sebut Pertanda Kurang Baik

Jika terjadi hal seperti demikian pihaknya merasa pasti ada yang tidak pas baik dari sudut agama, adat, maupun budaya.

Satu Gunungan Grebeg Syawal Jatuh, Rayi Dalem Sebut Pertanda Kurang Baik
tribunjogja/azkaramadhan
Masyarakat berebut hasil bumi yang berada di salah satu gunungan Grebeg 1 Syawalan di depan Keraton Yogyakarta, Kamis (7/7/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rona Rizkhy Bunga Chasana dan Azka Ramadhan

TRIBUNNEWS.COM, YOGYA - Sebanyak lima buah gunungan dirayah atau diperebutkan oleh ribuan masyarakat yang sudah menanti di Halaman Masjid Gedhe Kauman, Yogyakarta, Kamis (7/7/201616).

Kelima gunungan tersebut terdiri dari masing-masing satu gunungan jaler, wadon, gepak, darat, serta pawohan.

Tampak, masyarakat dari berbagai penjuru sudah berkumpul menantikan arak-arakan gunungan sejak kisaran pukul 09.00 WIB, baik yang berada di depan Pagelaran Keraton, ataupun Halaman Masjid Gedhe Kauman.

Praktis, begitu KRMT Ahmad Muksin Kamaludiningrat, selaku Kyai Penghulu, selesai membacakan doa, kelima gunungan langsung dirayah habis hingga tak tersisa.

Selain lima gunungan tersebut, masih ada dua gunungan jaler lainnya yang diarak dan dirayah di Kompleks Kepatihan serta Puro Pakualaman. 

Saat pelaksanaan Grebeg Syawal, salah satu gunungan wadon yang dibawa oleh abdi dalem sempat jatuh ketika menuruni tangga Regol menuju ngejaman/depan masjid Gedhe.

Gunungan yang berisi wajik tersebut terpeleset dari sunggian. Walaupun begitu terjatuhnya gunungan tak membuatnya rusak.

Menanggapi adanya peristiwa tersebut, salah satu Rayi dalem yang juga Manggala Yuda, GBPH. Yudhaningrat, mengatakan bahwa kejadian tersebut sebelumnya belum pernah terjadi.

"Ya itu lho, kalau ada yang ndak pas mesti gitu itu," ujarnya.

Gusti Yudha pun menceritakan bahwa kejadian seperti itu juga terjadi di ritual - ritual sebelumnya seperti saat di labuhan dan Merapi.

"Seperti waktu labuhan itu ya pada kembali lagi. Kemudian waktu di Merapi juga demikian," tambahnya.

Jika terjadi hal seperti demikian pihaknya merasa pasti ada yang tidak pas baik dari sudut agama, adat, maupun budaya.

"Ya ndak pas, mesti ada yang ndak pas. Ya dari sudut agama, adat, budaya. Itu mesti bisa dilihat alamnya ndak mau,'' tutupnya. (*)

Ikuti kami di
Editor: Wahid Nurdin
Sumber: Tribun Jogja
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas