Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Bocah Asal Sleman Meninggal Terjangkit Antraks, Sempat Mandi di Sungai

Bocah berinisial H asal Sleman meninggal terjangkit antraks, sepekan sebelumnya ia sempat mandi di sungai.

Editor: Y Gustaman
zoom-in Bocah Asal Sleman Meninggal Terjangkit Antraks, Sempat Mandi di Sungai
Net
Ilustrasi jenazah bayi 

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Seorang bocah delapan tahun berinisial H, warga Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, meninggal diduga virus antraks.

Sebelum meninggal H menjalani perawatan di Pediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Pusat Sardjito, dari 31 Desember 2016 setelah dirujuk dari RSUD Sleman

"Pasien datang ke IGD (RSUP Sardjito), rujukan dari RSUD Sleman karena mengalami penurunan kesadaran," ungkap Nurnaningsih, Dokter Spesialis Anak yang menangani H, Sabtu (21/1/2017).  

Selama berada di IGD anak tersebut sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri dan mengalami kejang-kejang. Selanjutnya pasien H dibawa ke PICU. 

Dokter kemudian meminta keterangan kronologi sakit pasien kepada pihak keluarga. Rupanya, beberapa hari sebelumnya si anak bermain air dan mandi di sungai daerahnya. 

Dua hari kemudian anak mengalami demam dan mengeluhkan nyeri di perut disertai muntah. Selanjutnya keluarga membawa anak itu ke Puskesmas dirawat semalam. 

Kondisi H tak juga membaik sampai akhirnya dibawa ke RSUD Sleman. Dari tanda yang ada awalnya dokter mendiagnosis anak tersebut terkena usus buntu.

Berita Rekomendasi

Lantaran mengalami penurunan kesadaran akhirnya pasien anak dirujuk ke RSUP Sardjito. 

Berdasarkan kronologi, tanda, dan pemeriksaan CT-Scan kepala si anak, dokter RSUP Sardjito menyimpulkan jika pasien terkena infeksi otak. 

"Kita lakukan CT-Scan kepala. Ternyata ada kelainan, anak ini menderita infeksi otak," tambah dia saat jumpa pers di RSUP Sardjito. 

Pihaknya kemudian melakukan penanganan infeksi otak itu. Selama enam hari ternyata pasien anak tidak kunjung memperlihatkan perbaikan kondisi.

Hingga akhirnya pada 6 Januari 2017 anak malang itu dinyatakan meninggal dunia.  "Saat anak ini meninggal kami belum tahu jika suspect antraks," ungkap Nurna. 

Hasil laboratorium darah dan cairan otak saat itu, pasien anak menunjukkan terkena bakteri yang ketika itu belum diketahui jenisnya karena perlu pemeriksaan lebih lanjut.

Hasil laboratorium mengenai jenis bakteri itu baru keluar 16 Januari 2017, yang menyatakan si anak terkena bacillus anthracis atau antraks. Kepastian lebih lanjut perlu diadakan uji sampel lainnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas