Tribun

Tewas Saat Diksar Mapala UII, Ini Curhatan Ibunda Mahasiswa Berprestasi Itu

Pemuda itu juga berkalungkan emas di bidang yang sama pada International Environment Sustainability Project Olympiad (INESPO) 2014 di Belanda.

Editor: Hendra Gunawan
Tewas Saat Diksar Mapala UII, Ini Curhatan Ibunda Mahasiswa Berprestasi Itu
Kompas.com/Wijaya Kusuma
Sri Handayani, Ibu almarhum Syaits Asyam saat menunjukan piagam dan mendali emas yang diperoleh oleh putranyaukan piagam dan mendali emas yang diperoleh oleh putranya 

TRIBUNNEWS.COM, SLEMAN - Di mata orangtua dan keluarga, Syaits Asyam merupakan pribadi yang ramah, taat beribadah, dan suka menolong. Asyam juga anak berprestasi dalam bidang akademis, baik tingkat nasional maupun internasional.

Kini keluarganya tak lagi dapat melihat Asyam. Mahasiswa Teknik Industri Universitas Islam Indonesia itu meninggal dunia seusai mengikuti Great Camping untuk Pendidikan Dasar Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UII di Gunung Lawu, Lereng Selatan, Tawangmangu, pada 13-20 Januari 2017.

"Asyam itu anak yang aktif, sibuk dengan belajar dan kegiatan dari pagi sampai pagi lagi. Sampai saya bilang, 'Belum kerja kok sudah mirip Pak Menteri'," ujar Sri Handayani, ibu almarhum Asyam saat ditemui di rumahnya, Jetis RT 13/RW 13, Caturharjo, Sleman, Senin (23/01/20167).

Sri menuturkan, Asyam merupakan putra satu-satunya. Laki-laki kelahiran 7 Juli 1997 itu mengawali pendidikan sekolah dasar di SD Muhammadiyah Sleman dan berlanjut ke SMP Negeri 1 Sleman. Lulus SMP, Asyam melanjutkan ke SMA Kesatuan Bangsa Boarding School (KBBS) Sleman.

"Sifatnya baik, patuh kepada orangtua, rajin shalat lima waktu, ramah, suka menolong sampai temannya itu banyak. Asyam itu selalu tidak ingin merepotkan orangtua atau keluarga," kata dia.

Selain pribadi yang baik, Asyam juga merupakan pelajar berptestasi. Putra pertama Abdullah Arbi dan Sri Handayani ini berhasil menyabet berbagai medali emas dalam bidang akademis saat sekolah di SMA Kesatuan Bangsa Boarding School (KBBS) Yogyakarta. 

Asyam menyabet emas bidang kimia di ajang International Science Project Olympiad (ISPrO) dan Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) pada 2014 di Jakarta.

Pemuda itu juga berkalungkan emas di bidang yang sama pada International Environment Sustainability Project Olympiad (INESPO) 2014 di Belanda.

"Penelitiannya saat itu soal lingkungan kelautan. Medali dan piagamnya itu dipajang di kamarnya. Anak saya tidak hanya membuat bangga keluarga, tetapi juga mengharumkan nama bangsa dan negara," ujarnya.

Saat menerima medali emas di Belanda itu, Asyam bertemu langsung dengan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi. Ia juga pernah dipanggil dan bertemu dengan Presiden Joko Widodo karena prestasinya.

Menurut Sri, putranya pernah menyampaikan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Saat itu Asyam mengatakan ingin kuliah di London, Inggris.

Nasib berkata lain, Syaits Asyam meninggal dunia pada Sabtu (21/1/2017) pekan lalu setelah sempat mendapat perawatan di RS Bethesda Yogyakarta.

Akibat kejadian ini, UII menghentikan sementara semua kegiatan luar ruang kemahasiswaan. Penghentian dilakukan sampai ada hasil evaluasi atas kematian mahasiswanya. (Kontributor Yogyakarta, Wijaya Kusuma)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas