Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pecandu Narkoba Pemegang 'Kartu Merah' Tetap Bisa Diproses Hukum

Surat rawat jalan bagi pecandu narkoba yang kerap dikenal dengan 'kartu merah' kadang dianggap sebagai dokumen 'sakti' untuk lepas dari jerat hukum.

Pecandu Narkoba Pemegang 'Kartu Merah' Tetap Bisa Diproses Hukum
Tribun Medan/Array A Argus
Loka Rehabilitasi BNN di Deliserdang tampak asri dan bersih. Di lokasi ini, BNN hanya bisa menampung pecandu yang ingin lepas dari narkoba sebanyak 100 orang, Sabtu (28/10/2017). TRIBUN MEDAN/ARRAY A ARGUS 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Array A Argus

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Surat rawat jalan bagi pecandu narkoba yang kerap dikenal dengan 'kartu merah' kadangkala dianggap sebagai dokumen 'sakti' untuk lepas dari jerat hukum.

Namun cara pandang seperti ini ternyata salah, karena pecandu yang memegang 'kartu merah' ini tetap bisa diproses hukum.

"Banyak masyarakat menganggap 'kartu merah' atau 'kartu kuning' itu sakti. Padahal tidak," kata Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Sumut, AKBP Agus Halimudin saat berada di Lokasi Rehabilitasi BNN, Sabtu (28/10/2017).

Baca: Jumlah Jenazah 47 Tapi yang Melapor Kehilangan Anggota Keluarganya Sudah 50 Orang

Agus mengatakan, jika dalam penangkapan ada orang yang menunjukkan kartu tersebut, maka harus diperiksa dengan detail.

Dokumen rawat jalan yang disebut sebagai 'kartu merah' itu biasanya ada tertera tempat pasien tersebut dirawat.

"Dokumen itu berisi catatan kapan pasien itu terakhir kali menjalani cek medis. Kemudian, yang saya tahu itu dokumen tersebut ada masa waktunya," ungkap Agus.

Pecandu narkoba yang dirawat di Loka Rehabilitasi BNN di Deliserdang diberi ketrampilan agar bisa kembali ke masyarakat. Ketika berbaur dengan masyarakat, maka mantan pengguna ini benar-benar bermanfaat di tengah masyarakat dengan keterampilan yang dimilikinya, Sabtu (28/10/2017). TRIBUN MEDAN/ARRAY A ARGUS
Pecandu narkoba yang dirawat di Loka Rehabilitasi BNN di Deliserdang diberi ketrampilan agar bisa kembali ke masyarakat. Ketika berbaur dengan masyarakat, maka mantan pengguna ini benar-benar bermanfaat di tengah masyarakat dengan keterampilan yang dimilikinya, Sabtu (28/10/2017). TRIBUN MEDAN/ARRAY A ARGUS (Tribun Medan/Array A Argus)

Tiap dokumen, kata Agus, biasanya memiliki tenggat waktu empat bulan.

Jika dokumen itu palsu, maka pasien atau pecandu wajib menjalani proses hukum.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Array Anarcho
Editor: Dewi Agustina
Sumber: Tribun Medan
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas