Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Terdakwa Money Politic Pilkada Lahat Divonis 36 Bulan, Kuasa Hukum Protes

Menurut Djoko Edhi, penanganan kasus money politic Pilkada Lahat sudah salah sejak di Kepolisian.

Terdakwa Money Politic Pilkada Lahat Divonis 36 Bulan, Kuasa Hukum Protes
Palu Hakim

TRIBUNNEWS.COM, LAHAT - Pengadilan Negeri Lahat menjatuhkan vonis 36 bulan dan penjara dan denda Rp200 juta subsider 1 bulan penjara kepada Syahril Effendi, terdakwa kasus praktik politik uang (money politics) di Pilkada Lahat.

Dalam putusannya Majelis Hakim PN Lahat, Shelly Noveriyati. SH menyebutkan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah karena dengan sengaja membagi-bagikan uang untuk memenangkan pasangan calon nomor 3 Cik Ujang-Haryanto dalam Pilkada Kabupaten Lahat.

Atas putusan tersebut, pelaku money politik, Syahril diberi waktu oleh majelis hakim selama tiga hari untuk pikir pikir menerima atau akan mengajukan banding atas keputusan hakim tersebut, Senin (23/7/18).

Atas vonis tersebut, Syahril menyatakan pikir pikir.

“Aku pikir pikir” kata Syahril.

Syahril didakwa sebagai pelaku Money Politics Jual beli suara untuk pasangan CIK Ujang dan Haryanto pada Pilkada Lahat 27 Juni 2018 lalu.

Ditemui usai sidang Syahril, tetap berharap pelaku lainnya untuk ditangkap juga, Syahril mengatakan “jangan aku saje, ye lainne Mane, tangkapila pule” katanya.

Kuasa Hukum Protes

Kuasa hukum Syahril, Djoko Edhi Abdurrahman, melakukan protes kepada majelis hakim karena marasa ada yang tidak benar dalam proses peradilan tersebut. Dia menanyakan kepada majelis hakim kenapa hanya ada Pelaku Tunggal (dader) dalam kasus politik uang ini, padahal mestinya ada pihak yang menerima dan pula pihak yang memberi.

Selain itu, Djoko Edhi juga mempersoalkan mengapa kliennya tidak diberikan surat dakwaan dan surat tuntutan, juga tidak ditawari pengacara pada awal sidang. Karena tidak puas dengan jalannya pesidangan Djoko Edhi kemudian memilih walk out (WO).

Halaman
12
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas