Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Gelar Sulinggih Termuda se-Bali Komang Widiantari Dicabut Usai Dinikahi Bule Amerika

Sesuai ajaran Agama Hindu, bila seseorang yang belum menikah mediksa sebagai sulinggih, maka ia menjadi sukla brahmacari (tidak menikah seumur hidup).

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Gelar Sulinggih Termuda se-Bali Komang Widiantari Dicabut Usai Dinikahi Bule Amerika
Tribun Bali/Fredey Mercury
Ida Resi Alit atau Komang Widiantari dan Torin Logan menjalani prosesi upacara pernikahan di Banjar Tanggahan Tengah, Susut, Bangli, Jumat (17/8/2018) malam. TRIBUN BALI/FREDEY MERCURY 

Menurut Sukra, ada sebuah syarat yang wajib dilakukan jika di kemudian hari yang bersangkutan akan kembali menjadi sulinggih.

Salah satu syarat dari Ida Nabe yakni harus melakukan penyucian diri (dharmayatra) selama satu tahun.

Penyucian diri tersebut termasuk di antaranya melakukan perjalanan spiritual ke Sungai Gangga di India dan Angkor Wat di Kamboja.

"Namun keputusan diterima dan tidaknya menjadi sulinggih lagi, adalah keputusan dari Ida Nabe," terang mantan Kadisdikpora Kabupaten Bangli ini.

Baca: Momen Bersejarah, Korea Selatan dan Utara Berparade dalam Satu Rombongan Bawa Bendera Korea Bersatu

Mediksa di Usia 21 Tahun
Komang Widiantari mediksa ketika masih berusia 21 tahun dan berstatus belum menikah. Ia terlahir dari keluarga pedagang.

Dari penuturannya, ia seperti mendapat pawisik dari Tuhan untuk mediksa, dan kemudian secara langsung bisa ngweda (mengucapkan mantra) dan mudra (melakukan gerakan orang suci).

Berawal dari Widiantari yang tak kunjung mendapat pekerjaan setelah lulus dari Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) Bangli tahun 2005.

Rekomendasi Untuk Anda

Padahal ia sudah melamar pekerjaan sampai ke Bintan, Kepulauan Riau.

Seorang kerabatnya, Pekak Mangku Bawa, kemudian mengajaknya malukat di Merajan Agung.

Saat itu secara emosional ia menangis sejadi-jadinya. Namun diakuinya masih dalam kondisi sadar.

Keadaan itu berlangsung selama dua jam. Akhirnya Komang Widiantari dibawa ke teman kakeknya untuk meditasi.

Setelah meditasi kelima dan keenam, ia mengalami sesuatu yang dahsyat.

Baca: Buronan Eksekutor Pelaku Pembakaran Satu Keluarga di Tinumbu Ditembak Polisi

Setelah merasakan sesuatu yang naik turun dari perut ke tenggorokan, bibirnya kemudian langsung bergetar dan ngweda dengan cepat, disertai gerakan mudra.

Oleh Pekak Mangkunya, ia kemudian diajak mediksa. Saat itu ia belum mengerti apa itu mediksa.

Dipikir hanya melukat biasa. Dia pun kaget saat mengetahui mediksa itu untuk menjadi sulinggih. Ia merasa belum siap.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas