Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

KPAID Kubu Raya Kawal Proses Hukum Penganiayaan yang Mengakibatkian Kematian Axcelle Raditya

Korban yang masih duduk kelas III SD itu dianiaya oleh kedua orangtua hingga berdampak korban sulit makan, hingga sakit demam dan tak bisa BAB

KPAID Kubu Raya Kawal Proses Hukum Penganiayaan yang Mengakibatkian Kematian Axcelle Raditya
Instagram@polsek_kakap
Kapolsek Sungai Kakap AKP Matias Suwart, Takziah di rumah duka almarhun Axcelle Raditya Ramadhan (8 th) di Kompleks Borneo Regency 8 Desa Pal Sembilan, Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya (8/1/2020) 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak Hadi Sudirmansyah


TRIBUNNEWS.COM, KUBU RAYA
- Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kubu Raya mengawal proses hukum kasus penganiayaan yang mengakibatkian kematian Axcelle Raditya Ramadhan (9) warga komplek Star Bornoe Regency 8 Desa Pal IX kec Sui Kakap.

Ketua KPAID Kubu Raya Diah Savitri mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Polres Kubu Raya dan tetap akan terus melakukan koordinasi untuk mengawal proses hukumnya.

"Tadi oleh bapak Kapolres kubu Raya juga telah di sampaikan akan menjerat dengan UU RI No 35 ta‎hun 2014 tentang perlindungan anak dan KUHP tentang pembunuhan," kata Diah pada Kamis (9/1/2020).

"Kami mendukung proses penyidikan yang di lakukan Polres Kubu Raya, dan saat ini kedua orangtua ibu kandung dan ayah Tiri korban sudah diamankan Polres Kubu Raya," kata Ketua KPAID Kubu Raya.

Tak hanya itu, korban yang di ketahui masih duduk kelas III SD itu dianiaya oleh kedua orangtua hingga berdampak korban sulit makan, hingga sakit demam dan tak bisa BAB.

Baca: Alasan Sepele ART Tega Ikat Anak Majikan Lalu Menganiaya Korban di Jakbar, Polisi Tangkap Pelaku

Baca: Gara-gara Cemburu, Anggota Polairud Polda Maluku Aniaya Mantan Pacar, Kini Terancam 15 Tahun Penjara

Baca: Fakta Bocah Dianiaya Ibu Kandung hingga Tewas di Kubu raya: Gagang Sapu Patah hingga Demam Tinggi

"Kecurigaan kita, kedua orangtua bersama-sama melakukan pemukulan atau penganiayaan terhadap korban," ujarnya.

"Dalam hasil autopsi korban menderita pendarahan di kepala, luka lebam pada badan akibat di pukul dengan gagang sapu hingga patah dan memar pada pipi kiri kanan hingga tak bisa makan," kata Diah.

Tak hanya itu, masih outopsi itu juga, akibat penganiayaan korban mengalami gangguan hati, usus dan lambung karena lebam yang mengenai ginjal, korban tak bisa makan berhari-hari dan tak bisa BAB

"‎Latar belakang ibu dan anak ini berasal dari Jawa, dan bapak tiri itu orang pontianak, mereka pindah ke Pontianak ekonomi semakin menurun.‎ Maka dugaan kita mereka ini mengalami permasalahan ekonomi," ujar Diah.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Eko Sutriyanto
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas