Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tragedi Susur Sungai

UPDATE Susur Sungai SMPN 1 Turi: Anak Tersangka Alami Bullying, Lempar HP saat Tonton Berita Ayahnya

Kasus susur sungai SMPN 1 Turi Sleman, keluarga tersangka mengalami bullying di media sosial. Anak tersangka lempar Hp saat tahu berita ayahnya

UPDATE Susur Sungai SMPN 1 Turi: Anak Tersangka Alami Bullying, Lempar HP saat Tonton Berita Ayahnya
TRIBUN JOGJA/HO/Hasan Sakri/PUSDALOPS BPBD DIY
Tiga tersangka kasus tewasnya peserta susur sungai Sempor SMPN 1 Turi Sleman Yogyakarta 

Meski demikian, Oktryan mengaku IYA sempat ada kepentingan di luar kegiatan dan harus meninggalkan lokasi.

Saat mendapat informasi ada laka sungai, IYA pun langsung bergegas ke lokasi dan membantu menolong anak-anak. 

Ia juga kooperatif saat diminta keterangan oleh polisi.

"IYA tidak melarikan diri, tak ada maksud melepas tanggungjawab," tegasnya.

Baca: Temui 3 Tersangka Susur Sungai Sempor yang Digunduli, Dinas Pendidikan Sleman Sebut Tak Ada Tekanan

Pihak kuasa hukum pun, tanpa bermaksud memojokan pemangku di sekolah, menyampaikan bahwa kegiatan ini sudah bagian dari kegiatan yang diprogramkan sekolah.

Jadi menurutnya ini bukan tanggungjawab individual

"Sepanjang murid melakukan kegiatan kesiswaan, itu berarti merupakan kegiatan sekolah. Itu bukan kegiatan serta merta atau mendadak. Tapi adanya musibah itu diluar perencanaan yang ada," tuturnya.

Tolak Penangguhan Penahanan

Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sempat menawarkan bantuan untuk penangguhan penahanan kepada tiga tersangka.

Namun, tiga tersangka yakni IYA, R dan DDS menyatakan menolak tawaran itu.

"Mereka mengatakan, kami tidak usah penangguhan penahanan," ujar Ketua Umum PGRI, Unifah Rosidi saat ditemui Kompas.com di Polres Sleman, Kamis (27/02/2020) sebagaimana dikutip dari TribunJogja

Unifah menyampaikan ketiganya menolak tawaran penangguhan penahanan karena merasa harus bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi.

Mereka tetap memilih menjalani proses hukum di tahanan Polres Sleman guna menebus kesalahan.

"Mereka menolak (penangguhan penahanan) sebagai rasa empati kepada keluarga korban," tegasnya.

Baca: Lihat Tersangka Susur Sungai yang Digunduli & Jalan Tanpa Alas, para Guru Protes & Singgung Koruptor

Selain itu, ketiganya juga sangat memahami perasaan para keluarga korban yang telah kehilangan anak mereka dalam kegiatan susur Sungai Sempor.

PGRI menawarkan penangguhan tersebut sebagai organisasi yang melindungi hak-hak anggotanya.

"Itu menunjukan sebuah tanggung jawab, sebuah sikap kesatria yang jarang di miliki dan itulah guru sejati," tandasnya.

Menurutnya setelah mendengar jawaban dari ketiganya, PB PGRI batal untuk mengajukan penangguhan penahanan.

(Tribunnews.com/Daryono) (TribunJogja/Santo Ari)

 
Ikuti kami di
Penulis: Daryono
Editor: Wulan Kurnia Putri
Sumber: TribunSolo.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas