Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Star Energy Geothermal Kembangkan Potensi Ekonomi Kopi di Jawa Barat

Dukungan yang diberikan antara lain penyediaan bibit kopi, alat pengolahan, pelatihan budidaya dan pendampingan pengolahan biji kopi paska panen

Star Energy Geothermal Kembangkan Potensi Ekonomi Kopi di Jawa Barat
Istimewa
Dukungan Star Energy Geothermal diberikan antara lain penyediaan bibit kopi, alat pengolahan, pelatihan budidaya dan pendampingan pengolahan biji kopi paska panen 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Choirul Arifin

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Star Energy Geothermal (SEG), perusahaan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang area operasinya berada di Jawa Barat, terus meningkatkan program tanggungjawab sosial untuk mendukung pencapaian target Sustainability Development Goals (SDG's) melalui program pemberdayaan masyarakat (Community Development).

Program-program pemberdayaan masyarakat ini dilakukan di wilayah Kabupaten Bandung, khususnya di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Garut, Kabupaten Sukabumi, serta Kabupaten Bogor.

Chief Power Plant Operations Officer Star Energy Geothermal, Heribertus Dwiyudha, Kamis (13/8/2020) mengatakan, perusahaannya mengembangkan program pemberdayaan masyarakat yang beorientasi pada upaya berkelanjutan dengan beberapa target yang dirumuskan untuk mencapai Sustainability Development Goals (SDG's).

Beragam program pengembangan masyarakat yang dilaksanakan Star Energy Geothermal tersebut antara lain pemberdayaan ekonomi lokal (sentra kopi, jamur, peternakan, dan pertanian ramah lingkungan), peningkatan akses pendidikan (literasi, pelatihan guru, beasiswa) dan perlindungan lingkungan (ekowisata, restorasi mata air, konservasi hutan).

Baca: Menteri Sosial Apresiasi CSR di Masa Pandemi Covid-19

Baca: Kesulitan Bayar Obat, Kakak-Adik Asal Garut Dapat Donasi 42 Juta

Strategi pengembangan program pemberdayaan masyarakat secara terpadu akan difokuskan pada pengembangan kawasan melalui program unggulan geo-wisata kawah Wayang, ekowisata Darajat dan greenbelt hutan koridor Gunung Salak yang akan memberikan dampak langsung kepada masyarakat secara bervariasi, mulai dari kesejahteraan, kualitas hidup dan kualitas lingkungan.

"Kami ingin mengembangkan kawasan dengan mendayagunakan potensi masyarakat dan dilakukan bersama masyarakat dengan prinsip saling mendukung dan transparansi," ujar Heribertus Dwiyudha.

Salah satu petani kopi di Pangalengan, Mochamad Aleh Setiapermana (Ketua Koperasi Petani Kopi Margamulya), yang akrab dipanggil M. Aleh mengungkapkan kebahagiaannya mendapat dukungan program pengembangan masyarakat Star Energy Geothermal karena membantu mengembangkan usahanya, sekaligus memberdayakan petani lainnya.

Dukungan yang diberikan antara lain penyediaan bibit kopi, alat pengolahan, pelatihan budidaya dan pendampingan pengolahan biji kopi paska panen.

Baca: Mengenal 6 Jenis Kopi Nusantara yang Mendunia, Ada Kopi Aceh Gayo hingga Kopi Kintamani

Baca: Berkat Klinik Ekspor Bea Cukai Jambi, 15,9 Ton Kopi Kerinci Diekspor ke Belgia

Dalam hal pemasaran, Star Energy Geothermal juga memfasilitasi keikutsertaan petani dalam berbagai pameran nasional termasuk mengemas dalam paket wisata Pangalengan sekaligus mempromosikan kopi khas Pangalengan dengan cita rasa yang sudah diakui kalangan penikmat kopi."

Dengan dukungan Star Energy Geothermal, saya belajar meningkatkan kapasitas dan kemampuan pengelolaan kopi yang baik sekaligus membuat kopi Pengalengan bisa kian dikenal," jelas M. Aleh, yang juga anggota komunitas Ambeu Preanger.

Program pengembangan masyarakat yang dilakukan Star Energy Geothermal telah memberikan dampak ekonomi yang dirasakan langsung.

Selama kurun tiga tahun mengikuti program pendampingan, pendapatan yang dihasilkan M. Aleh telah meningkat rata-rata 54% per tahun dari berbagai olahan biji kopi, baik berupa ceri, gabah, maupun bean.

“Dari pelatihan budidaya yang saya ikuti dari program pemberdayaan masyarakat, produktivitas biji kopi jadi maksimal. Pada 2017 saya panen ceri hanya 375 ton, dan mengalami peningkatan pada 2019 menjadi 1.726 ton,” ungkapnya.

Ikuti kami di
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Eko Sutriyanto
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas