Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Polisi Gadungan Tewas di Tahanan, Keluarga Mengaku Diteror saat Pertanyakan Kejanggalan Kematiannya

Beberapa kali orang yang tidak dikenal oleh keluarga dan mengaku sebagai petugas menghubungi Sri Rahayu melalui sambungan telepon.

Polisi Gadungan Tewas di Tahanan, Keluarga Mengaku Diteror saat Pertanyakan Kejanggalan Kematiannya
Tribun Medan/Victory Arrival Hutauruk
Keluarga tahanan polisi gadungan yang meninggal tak wajar di Polsek Sunggal, Sri Rahayu mengaku diteror oleh oknum petugas usai melaporkan kasus tersebut ke Polda Sumut. 

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Keluarga tahanan polisi gadungan yang meninggal tak wajar di Polsek Sunggal mengaku diteror oleh oknum petugas usai melaporkan kasus tersebut ke Polda Sumut.

Hal ini disampaikan langsung adik korban Joko Dedi Kurniawan, Sri Rahayu yang menyebutkan dirinya ditelepon hingga diminta bertemu oleh orang tak dikenal.

"Ada beberapa yang menghubungi saya dan meminta untuk bertemu, tapi saya bilang waktu itu saya lagi di luar," kata Sri di kantor LBH Medan, Sabtu (17/10/2020).

Menanggapi hal tersebut, kuasa hukum keluarga dari LBH Medan menyebutkan, hal tersebut adalah bentuk intimidasi atau upaya menakut-nakuti keluarga agar mencabut laporannya.

"Hal yang kita nilai sebagai dugaan intimidasi itu diterima oleh keluarga dalam beberapa bentuk, ada yang secara terang-terangan dan ada pula melalui telepon," katanya.

Dikatakannya, beberapa kali orang yang tidak dikenal oleh keluarga dan mengaku sebagai petugas menghubungi Sri Rahayu melalui sambungan telepon.

Bahkan mereka selalu mengajak bertemu dengan pihak keluarga dengan cara mengancam.

Dua tahanan Polsek Sunggal yang meninggal, Rudi Efendi (40) dan Joko Dedi Kurniawan (36).
Dua tahanan Polsek Sunggal yang meninggal, Rudi Efendi (40) dan Joko Dedi Kurniawan (36). (Istimewa)

"Dari balik telepon orang tersebut kita duga ingin bernegosiasi terkait kasus tersebut. Namun dengan menakut-nakuti bahkan dengan mengatakan 'sudah ku rekam suaramu ya," tuturnya sambil menirukan suara tersebut.

Irvan menyebutkan teror tersebut datang saat keluarga dan LBH Medan sebagai kuasa hukum membuat laporan di Propam Polda Sumut.

"Waktu kita buat laporan di Propam ada dua kali ditelepon, ada yang mengaku bermarga Samosir, ada yang mengaku bermarga Tarigan. Jadi ada sekitar tiga kali ya," jelasnya.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas