Di Kalbar, Layang-layang Kawat Juga Sebabkan Gangguan Konstruksi
Huslan Husain mengatakan hingga 25 Oktober 2020, persentase gangguan layangan mencapai angka 3 persen dari total gangguan UIW Kalbar
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Permainan layang-layang ternyata pernah memberikan dampak buruk bagi pendistribusian listrik di wilayah Kalimantan, termasuk Unit Induk Wilayah (UIW) Kalimantan Barat (Kalbar).
Hal itu karena layang-layang ini menggunakan tali kawat yang membahayakan sistem kelistrikan di PT PLN (Persero) wilayah tersebut karena bisa mengakibatkan pemadaman listrik.
Baca juga: Layangan Nyangkut di Roda Pesawat Citilink: Akibatnya Fatal Jika Tersangkut di Propeller
Baca juga: Hati-hati Main Layang-layang, Jangan di Kawasan Keselamatan Penerbangan, Ini Sanksinya
Senior Manajer Distribusi PT PLN (Persero) UIW Kalbar, Huslan Husain mengatakan hingga 25 Oktober 2020, persentase gangguan layangan mencapai angka 3 persen dari total gangguan UIW Kalbar.
"Unit Pelayanan yang paling berdampak pada gangguan layang-layang adalah UP3 Pontianak sebesar 66 persen, ini 200 dari 300 kali gangguan sampai dengan Oktober 2020," ujar Huslan, kepada Tribunnews, Minggu (1/11/2020).
Terkait rincian gangguan di UP3 Pontianak ini, Unit Layanan Pelanggan (ULP) yang sering mengalami gangguan karena layang-layang berkawat meliputi ULP Siantan 82 kali, Kota 67 kali, Jawi 22 kali dan Mempawah 17 kali.
Ia menambahkan, dominasi gangguan yang disebabkan layangan berkawat ini biasanya terjadi saat cuaca cerah.
"Gangguan layangan cukup mengganggu pendistribusian supply listrik, terutama pada kondisi cuaca cerah," kata Huslan.
Lebih lanjut Huslan menyebut gangguan layangan turut berdampak pula ada gangguan konstruksi.
Tercatat gangguan konstruksi yang dialami di UP3 Pontianak hingga Oktober 2020 sebanyak 246 kali.
Gangguan ini paling banyak terjadi di ULP Siantan sebanyak 90 kali, Kota 74 kali, Rasau Jaya 24 kali, Ngabang 24 kali, serta Mempawah 22 kali.
Data gangguan konstruksi ini sebenarnya adalah dampak dari gangguan layangan yang merusak peralatan konstruksi," pungkas Huslan.