Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Satu Hari Pasca Hujan Ekstrem, Wilayah Banjir di Semarang Mulai Surut

Untuk jumlah warga yang mengungsi juga sudah tidak banyak. Misalnya di Semarang Barat sudah tidak ada yang mengungsi.

Satu Hari Pasca Hujan Ekstrem, Wilayah Banjir di Semarang Mulai Surut
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Pengendara motor melintasi genangan banjir di Jalan Pemuda Semarang, Sabtu (6/2/2021). 

TRIBUNNEWS.COM - Setelah melakukan tinjauan kepada beberapa wilayah yang dilaporkan terdampak hujan ekstrem, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi mengungkapkan banjir di wilayah yang dipimpinnya tersebut mulai surut. Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi itu menjelaskan, pemaksimalan pompa penyedot air yang ada pada sistem drainase di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah menjadi salah satu cara yang dilakukan.

Namun dirinya juga tak menampik, dalam menghadapi hujan esktrem dengan siklus 50 tahunan yang melanda Semarang tersebut, daya tampung air pada drainase yang dibangun tidak mencukupi, sehingga butuh waktu dalam penanganan. Hal itu disampaikannya saat memberi keterangan pers di Balaikota Semarang, Minggu (7/2).

"Jumat, mulai sekitar jam 12 malam sampai jam 8 pagi, lalu berhenti, kemudian hujan lagi sampai jam 1 siang, yang menurut BMKG kategorinya adalah hujan ekstrem di 3 kecamatan, kemudian 11 kecamatan kategorinya hujan sangat lebat, dan 2 kecamatan lainnya hujan lebat. Dari semua itu kami mencatat ada 27 titik tanah longsor dan 29 titik banjir, dengan 2 korban meninggal dunia karena longsor, dan 2 karena tersengat aliran listrik," detailnya.

Lebih lanjut Hendi menyebutkan pasca terjadinya hujan ekstrem di Kota Semarang, hingga tinjauan pada hari Minggu (7/2) titik banjir di wilayahnya sudah sangat berkurang, terutama di jalan protokol semuanya sudah kering. "Kami catat yang hari ini tinggaldi Kecamatan Genuk, Pedurungan, juga daerah Puri di Semarang Barat. Fokus kami saat ini terus menyalakan pompa - pompa, dan semoga satu dua hari tidak terjadi lagi hujan ekstrem di Kota Semarang," paparnya.

Wali Kota Semarang itu juga menceritakan, bahwa sebelumnya pada malam hari dia sempat mengunjungi daerah Muktiharjo Kidul dan tidak dapat masuk karena kondisi genangan air sangat tinggi, namun pada tinjauannya yang kedua dia sudah dapat melintasi jalur tersebut.

"Untuk jumlah warga yang mengungsi juga sudah tidak banyak. Misalnya di Semarang Barat sudah tidak ada yang mengungsi. Lalu di Trimulyo, Genuk ada yang mengungsi pada satu dua mushola, tapi jumlahnya juga tidak banyak, satu mushola hanya 10 sampai 20 KK. Kemudian di Tlogosari Kulon, Pedurungan juga tadi malam bahkan sudah ada yang bersiap untuk pulang," tuturnya.

Sementara itu Hendi meluruskan, bahwa kondisi bencana banjir pada keseluruhan wilayah yang dipimpinnya tidak seperti yang dipikirkan oleh masyarakat di luar Kota Semarang.

"Kalau pengungsiannya tidak sebanyak yang dibayangkan kawan - kawan, jika ada yang mengungsi karena kemarin banjir tinggi itu karena ada permintaan masyarakat untuk dievakuasi keluar, yang setelah itu mereka tinggal di rumah saudaranya, penginapan, atau hotel," pungkasnya.

Di sisi lain, Wali Kota Semarang juga menegaskan akan melakukan evaluasi untuk menambah kapasitas drainase di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. "Evaluasinya pertama, kapasitas pompa harus ditingkatkan, karena kapasitas pompa yang kita punya itu hitungan hujan tahun 2013. Tapi dengan adanya hujan ekstrem seperti ini, pompa harus ditingkatkan agar dapat mengeringkan lebih cepat," tekan Hendi.

"Kedua, memprioritaskan penambahan daya tampung saluran. Dan yang ketiga kami berharap pada percepatan normalisasi, termasuk pembangunan tanggul laut dari pemerintah pusat, melalui Kementerian PUPR," imbuhnya.

Ikuti kami di
Editor: Content Writer
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas