Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kisah Nekat Para Pemudik: Disuruh Putar Balik Walau Sudah Tempuh Ribuan Km hingga Jalan Kaki 6 Hari

Inilah sebagian kisah masyarakat yang berusaha agar tetap bisa mudik. Ada yang diminta putar balik padahal sudah menempuh jarak ribuan Km.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Sri Juliati
Editor: Gigih
zoom-in Kisah Nekat Para Pemudik: Disuruh Putar Balik Walau Sudah Tempuh Ribuan Km hingga Jalan Kaki 6 Hari
ISTIMEWA-Tribun Medan/Alif Alqadri Harapap
Inilah sebagian kisah masyarakat yang berusaha agar tetap bisa mudik. Ada yang diminta putar balik padahal sudah menempuh jarak ribuan Km hingga jalan kaki selama 6 hari. 

"Terpaksa disuruh balik lagi, terlebih tidak memiliki dokumen negatif Covid-19," ujar Gunarto.

3. Jalan Kaki Selama 6 Hari

Sudah 6 hari ini Dani (38) berjalan kaki bersama isterinya Masitoh Aninur Lubis (36) menyusuri jalan nasional jalur selatan.
Sudah 6 hari ini Dani (38) berjalan kaki bersama isterinya Masitoh Aninur Lubis (36) menyusuri jalan nasional jalur selatan. (Tribunjabar.id/Andri M Dani)

Kisah lain datang dari pasangan suami istri asal Kecamatan Soreang, Bandung, Jawa Barat, Dani (38) dan Masitoh Aninur Lubis (36).

Bersama dua anaknya yang masih balita, keluarga ini nekat berjalan kaki dari Gombong, Jawa Tengah menuju Bandung.

Padahal, menurut Google Maps, jarak antara Gombong menuju Soreang sekitar 279,6 km!

Dikutip dari TribunJabar, Dani sekeluarga sudah berjalan kaki selama enam hari dan berangkat pada Minggu (2/5/2021) sore.

Pada Jumat (7/5/2021) siang, mereka sudah sampai di Jalan A Yani Lingkungan Bolenglang RT 3 RW 5 Ciamis, Jawa Barat.

Rekomendasi Untuk Anda

Dani mengaku nekat jalan kaki dari Gombong menuju kampung halamannya karena sudah tidak punya apa-apa lagi.

Ia di-PHK dari perusahaan konveksi rumahan di Gombong tempatnya bekerja.

Mirisnya, mereka hanya membawa bekal uang sebesar Rp 120.000.

"Tapi Alhamdulillah, selama di perjalanan banyak yang bantu. Ada yang ngasih uang, ada yang ngasih makanan."

"Kami hanya berjalan di siang hari, kalau malam istirahat," ujar Masitoh.

Menurut Masitoh, mereka memilih pom bensin (SPBU) untuk istirahat malam sekaligus menumpang mandi.

"Setelah istirahat malam di pom bensin, pagi harinya melanjutkan perjalanan lagi," katanya.

Setiap hari, mereka bisa melakukan perjalanan 25 km hingga 30 km, kadang lebih cepat bila ada yang menawari tumpangan.

Halaman 3/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas