Tribun

Liputan Khusus

Kegembiraan Rakyat Miskin Mendapatkan Rumah Susun Meskipun Harus Antre 10 Tahun

Bagi rakyat kecil rumah susun sangat berarti. Meskipun harus berjuang antre 10 tahun, dilakoninya dengan sabar.Senangnya begitu mendapat kunci.

Editor: cecep burdansyah
zoom-in Kegembiraan Rakyat Miskin Mendapatkan Rumah Susun Meskipun Harus Antre 10 Tahun
ist
Rumah susun (Rusun) Pasar Rumput Jakarta 

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Yayuk dan Titik mengungkapkan rasa syukur yang tiada tara saat disinggung tentang perasaannya setelah menempati Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Babat Jerawat, Pondok Benowo Indah, Kecamatan Pakal, Kota Surabaya.

Penantiannya bertahun- tahun akhirnya berbuah manis. Sebelumnya, Yayuk dan keluarganya menjalani kehidupan rumah tangga satu atap bersama orang tua.

Sedangkan Titik beserta keluarga mengontrak sebuah rumah dalam kurun waktu beberapa tahun.

Yayuk menceritakan, ia menunggu pengajuan permohonan tinggal di rusun selama 10 tahun. Perempuan yang membuka warung kecil tersebut berjuang melewati banyak prosedur. Mulai dari pengajuan ke Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah, hingga tahapan survei.

“Bawa fotokopi KTP dan KK asli Surabaya. Mengisi formulir identitas, pekerjaan, sama penghasilannya berapa. Kemudian membawa surat keterangan tidak mempunyai rumah yang ditandatangani dan stempel dari lurah,” ujar Yayuk ketika ditemui di Rusunawa Babat Jerawat.

Menurutnya, proses yang lama itu dikarenakan petugas harus menyamakan data yang diisi oleh pemohon,dengan petugas lapangan. Meski sudah diperiksa, Yayuk kembali menunggu pemberitahuan selanjutnya. Tidak langsung mendapatkan kunci rusun.

“Kemudian saya ditelepon untuk datang ke kantor. Tanda tangan bawa materai sama mengumpulkan foto.Habis ditelepon saya nunggu satu bulan lagi baru ambil kunci,” ujarnya.

Yayuk dikenakan biaya sewa senilai Rp 76 ribu per bulan. Lalu per bulan Yayuk membayar tagihan air sebesar Rp 12 ribu. Listrik yang ia gunakan adalah token PLN.

“Masih sepi dan sedikit yang tinggal di sini. Kira-kira 13 KK. Per lantai biaya sewanya berbeda beda,” beber Yayuk yang tinggal di lantai tiga.

“Harapannya bisa dipermudah. Kalau ke depan ada evaluasi dan ada penghuni yang tidak sesuai. Diberikan tenggat waktu agar cari rumah baru,” katanya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Titik, dalam sebulan ia dipatok biaya sewa Rp 62 ribu. Sementara tarif air per bulan mencapai Rp 15 ribu. Listrik yang digunakan jenisnya sama berupa token PLN.

“Ngisinya Rp 20 ribu per bulan.Tidak gampang pengajuan tinggal di rusun. Benar-benar diseleksi dan benar-benar asli Surabaya. Dilihat penghasilannya berapa,” ujarnya yang tinggal di lantai empat.

Titik yang berprofesi sebagai penjual donat, berharap pemerintah harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu, sebelum membuat aturan terkait rusunawa.

“Dibicarakan dulu. Saya bersyukur tinggal di rusun. Penghuni di sini antrenya macam-macam. Ada yang sampai 10 tahun ada yang 11 tahun,” katanya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas