Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Liputan Khusus

Menikakan Anak di Bawah Umur Karena Ingin Melepaskan Beban

Menikahkan anak di bawah umur berdampak kesehatan. Hal itu pun terkait budaya, yaitu rendahnya kesadaran masyarakat teradap berbagai resiko.

Menikakan Anak di Bawah Umur Karena Ingin Melepaskan Beban
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo berdiskusi dengan anak-anak sekaligus memberikan pengarahan pada acara Gelar Expo "Jo Kawin Bocah" yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja kompleks Kantor Pemerintah Provinsi Jateng Kota Semarang, Rabu (9/6/2021). (Tribun Jateng/Hermawan Handaka) 

News Analyisis

Novia Wahyu Wardhani (Dosen Politik dan Kewarganegaraan Unnes)

ANGKA fantastis perbandingan angka pernikahan tiap tahun dan angka perceraian yang hampir mencapai 3:1 khususnya di Jawa Tengah. Angka pernikahan di Jateng mencapai 300 ribu pernikahan tiap tahun. Dan ada 72 ribu perceraian dalam setahun.

Data dan fakta di catatan Kemenag Jawa Tengah tahun 2018 terjadi pernikahan di bawah umur sebanyak 3.275 dan bertambah lagi di tahun 2019 menjadi 3.865 pasangan.

Perubahan Undang-Undang No 1 tahun 1974 ke Undang-Undang No 16 tahun 2019 menunjukkan komitmen pemerintah untuk menurunkan angka pernikahan di bawah umur.

Dahulu batas usia minimal untuk menikah laki-laki 19 dan perempuan 16 tahun. Namun sekarang dengan UU yang baru, batas usia minimal perempuan dan laki-laki sama, yaitu 19 tahun.

Namun perlu diketahui pernikahan di bawah umur bukan hanya menyangkut masalah hukum tetapi juga budaya, kesehatan, dan karakter.

Realitas yang terjadi di Jawa Tengah memiliki banyak anak terjadi di kalangan masyarakat bawah dan salah satu cara untuk melepas biaya hidup yang tinggi adalah menikahkan anak mereka sesegera mungkin, khususnya perempuan agar menjadi tanggungan hidup orang lain.

Realitas yang kedua bahwa masyarakat tidak tahu risiko pada kesehatan atas adanya pernikahan di bawah umur karena kurang sosialisasi dan memang tidak ada kesadaran masyarakat terhadap kualitas hidup.

Tambah Masalah

Halaman
123
Editor: cecep burdansyah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas