Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Kisah Inspiratif Asli Indonesia

Mengintip Perjuangan Komunitas GPS Tembung Sadarkan Warga Kalau Sungai Bukan Tempat Sampah

Komunitas GPS Tembung konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya pemahaman bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan sampah.

Mengintip Perjuangan Komunitas GPS Tembung Sadarkan Warga Kalau Sungai Bukan Tempat Sampah
Instagram GPS Tembung
Merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia GPS Tembung melakukan penanaman rumput Vetiver di sekitaran sungai Tembung. 

TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengungkapkan bahwa 59 persen sungai yang ada di Indonesia berada dalam kondisi tercemar berat. Banyaknya jumlah sungai yang tercemar ini salah satunya turut disebabkan oleh limbah rumah tangga.

Belum lagi, masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang dan mengelola sampah turut menjadi permasalahan yang semakin memperburuk kondisi sungai, sekaligus  berpengaruh pada keberlangsungan hidup biota sungai.

Keadaan ini pun mendorong berbagai komunitas peduli lingkungan seperti komunitas Gerakan Peduli Sungai (GPS) Tembung untuk ambil bagian.

Komunitas GPS Tembung konsisten memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya pemahaman bahwa sungai bukanlah tempat pembuangan sampah.

Ketua GPS Tembung Luthfi Hakim Simanjuntak mengungkapkan, rendahnya kesadaran masyarakat dan pemerintah membuat Sungai Tembung yang berada di Kabupaten Deli Serdang ini pun kerap kali masih dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah.

Selain kesadaran akan pengelolaan sampah, Lutfi menjelaskan bahwa perilaku masyarakat yang membuang sampah ke sungai juga turut disebabkan tidak tersedianya fasilitas yang memadai.

"Kemarin sempat ada tapi harus bayar retribusi. Warga bilang ekonomi kami di sini kalangan menengah ke bawah makan saja kami susah," papar Lutfi.

Melihat keadaan ini, Lutfi pun berharap pemerintah dapat memberikan fasilitas tempat sampah yang memadai di sekitar lingkungan masyarakat tanpa harus berbayar dan kemudian menerapkan tindakan tegas bagi orang yang masih membuang sampah sembarangan ke sungai. 

Dengan begitu, harapannya hal ini bisa menjadi suatu dorongan agar kesadaran masyarakat akan kepedulian terhadap lingkungan, terutama Sungai Tembung dapat terwujud dengan baik, sehingga kedepannya Sungai Tembung tak lagi disalahgunakan sebagai tempat pembuangan sampah.

"Kita berharap ya, semua pihak mau peduli terhadap lingkungan ini, untuk tidak membuang sampah sembarangan itu sudah membantu. Kiranya ke depan kesadaran untuk menjaga lingkungan terutama sungai bagi masyarakat semakin bertambah," ujar Lutfi.

Selain aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, Lutfi mengungkapkan bahwa komunitas GPS Tembung juga rutin melakukan kegiatan pembersihan sampah di pinggiran Sungai Tembung. Kegiatan ini menjadi upaya dari GPS Tembung untuk menjaga kebersihan Sungai Tembung sehingga tidak terjadi pencemaran lingkungan.

Selain itu, pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di bulan Juli 2021 lalu, komunitas GPS Tembung juga berkesempatan untuk membangun benteng mitigasi bencana dengan penanaman rumput vetiver di pinggiran Sungai Tembung setelah menyusuri dan membersihkan pinggiran sungai.

“Setelah itu melakukan diskusi seputar lingkungan hidup agar visi misi ke depan melestarikan alam mudah tercapai," tutup Lutfi.

Tak hanya komunitas GPS Tembung dan masyarakat di sekitar Sungai Tembung, kesadaran akan kepedulian lingkungan terutama dalam pengelolaan dan pembuangan sampah juga semestinya menjadi tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Indonesia.  

Hal ini menjadi upaya bersama agar kelestarian alam dapat terus terjaga dan permasalahan sampah yang begitu memprihatinkan di tanah air pun bisa menemukan titik terang.   

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas