Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

Update Klaster Sekolah di Purbalingga dan Jepara, Gerindra: PTM Jangan Jadi Pemicu Ledakan Covid

Kasus covid di lingkungan sekolah di Purbalingga dan Jepara tuai sorotan, alhasil PTM harus dihentikan, siswa dan guru yang positif jalani isolasi.

Update Klaster Sekolah di Purbalingga dan Jepara, Gerindra: PTM Jangan Jadi Pemicu Ledakan Covid
TRIBUNBANYUMAS.COM/HUMAS PEMKAB PURBALINGGA
Petugas Satgas Covid-19 saat memberikan arahan kepada siswa SMP Negeri 4 Mrebet Purbalingga sebelum memasuki ruangan isolasi terpusat di sekolah tersebut, Selasa (21/9/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG - Temuan kasus Covid-19 di sekolah yang terjadi di beberapa daerah, harus menjadi catatan bagi pemerintah.

Teranyar klaster sekolah ditemukan di Purbalingga dan Jepara.

Sementara di Semarang dan Blora sudah dipastikan kasus covid-19 di lingkungan sekolah bukan dari klaster tatap muka.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Lingkungan Sekolah Jateng Terus Bertambah, Bermula dari Curi Star PTM ?

Anggota DPRD Kota Semarang dari Fraksi Gerindra, Abdul Majid, mengatakan, pihaknya tidak ingin PTM menjadi penyebab timbulnya klaster baru dan menjadi penyebab ledakan Covid-19 gelombang ketiga.

Maka dari itu, dia meminta seluruh pihak tidak lengah dalam menerapkan protokol kesehatan.

Vaksinasi bagi pelajar perlu segera diselesaikan untuk meminimalisir terjadinya penyebaran Covid-19 di lingkungan sekolah.

"Jangan sampai PTM jadi pemicu timbulnya gelombang ketiga. Fraksi Gerindra meminta Dinkes memvaksin semua siswa. Sekolah juga harus konsisten terhadap protokol kesehatan, menyediakan masker, cuci tangan, sanitizer, dan disinfektan," tegasnya, Rabu (22/9/2021).

Baca juga: Respons Dinas Kesehatan DKI Soal Temuan 25 Klaster Covid-19 Selama PTM

Majid menyampaikan, aturan PTM yang disiapkan oleh Dinas Pendidikan sudah sangat detail.

Pembatasan diberlakukan 50 persen.

Jam masuk dan pulang aekolah pun tidak dilakukan secara serentak untuk meminimalisir kerumunan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas