Tribun

Kolaborasi Mowilex dalam Perhelatan Biennale Jogja XVI Equator #6 2021

Sekitar 34 seniman dan komunitas memberikan ruang dedikasi untuk seniman dan tokoh budaya seperti Y.B. Mangunwijaya dan Sriwati Masmundari

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Eko Sutriyanto
Kolaborasi Mowilex dalam Perhelatan Biennale Jogja XVI Equator #6 2021
dok.
Partisipasi Mowilex di perhelatan seni Biennale Jogja XVI Equator #6 2021, melibatkan 34 seniman dan komunitas dan digelar pada 6 Oktober hingga 14 November 2021. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Choirul  Arifin

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kota Yogyakarta menjadi tuan rumah perhelatan seni berskala internasional Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 yang melibatkan 34 seniman dan komunitas dan digelar pada 6 Oktober hingga 14 November 2021.

Seluruh rangkaian pameran dan kegiatan ini diselenggarakan di empat lokasi, yaitu Jogja National Museum (JNM), Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Museum dan Tanah Liat (MDTL), dan Indie Art House.

Sekitar 34 seniman dan komunitas yang terlibat memberikan ruang dedikasi untuk seniman dan tokoh budaya seperti Y.B. Mangunwijaya dan Sriwati Masmundari.

Sementara untuk program aktivasi terdapat kurang lebih 70 agenda, seperti Biennale Forum, Program Labuhan, Residensi, dan Resource Room.

Selain itu, ada pula Bilik Negara Korea/ASEAN serta Taiwan yang mengundang para seniman dari dua wilayah tersebut.

Baca juga: Liburan Sehari di Yogyakarta, Awali dengan Gudeg Akhiri di Malioboro

Biennale diselenggarakan pertama kali di Yogyakarta pada 1988 dan kemudian menjelma menjadi perhelatan seni yang diselenggarakan dua tahun sekali. Biennale Jogja XVI Equator #6 digelar pada 6 Oktober hingga 14 November 2021.

“Perhelatan Biennale Jogja XVI memberikan pengunjung sebuah pengalaman menikmati karya dari seniman dalam tema “Roots <> Routes” yang menampilkan semua aspek sosial dan humanis, kami senang berkolaborasi bersama Biennale Jogja XVI,” ujar Anna Yesito Wibowo, Chief Marketing Officer PT Mowilex Indonesia, perusahaan cat yang ikut berkolaborasi di penyelenggaraan Biennale Jogja XVI.

Perusahaan ini menaruh perhatian besar pada narasi-narasi mengenai lokalitas dan pengetahuan tempatan, serta dekolonisasi dan desentralisasi.

Biennale Jogja XVI bekerjasama dengan empat institusi dan kolektif seni dari Jayapura, Ambon, Kupang, dan Maumere untuk membuat Program Labuhan (Docking Program) sebagai perwujudan dari gagasan desentralisasi yang diusung.

Baca juga: Turuti Keinginan Bumil, Atta Halilintar Ajak Aurel Hermansyah Jalan-jalan ke Solo-Jogja sambil Kerja

Pada acara pembukaan, Niko Safavi CEO PT Mowilex Indonesia mengatakan, pihaknyasangat senang dapat berkolaborasi dan memfasilitasi implementasi cat pada ruang pameran serta seniman mural pada Biennale Jogja XVI.

Perhelatan Biennale Jogja XVI sebelumnya melibatkan ratusan pengunjung, karena situasi pandemi, kini pengunjung dibatasi, meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme pengunjung yang datang dan tetap tertib menjalankan protokol kesehatan sambil menikmati karya seniman.

Direktur Biennale Jogja 2021, Gintani N.A Swastika turut mengapresiasi kolaborasi dengan Mowilex, dukungan yang Mowilex berikan melalui implementasi cat dinding yang digunakan untuk mewarnai ruang-ruang pameran serta karya mural dari beberapa seniman.

“Kolaborasi dengan Mowilex merupakan yang pertama dan kami berharap bahwa kolaborasi ini akan terus terjadi kedepannya,” ujar Gintani.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas