Tribun

Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Trauma Tragedi Kanjuruhan, Sugeng Larang Anaknya Menonton Pertandingan Bola di Stadion

Sugeng (50) memutuskan melarang anaknya menonton pertandingan sepak bola di stadion buntut tragedi Kanjuruhan yang tewaskan ratusan orang

Editor: Erik S
zoom-in Trauma Tragedi Kanjuruhan, Sugeng Larang Anaknya Menonton Pertandingan Bola di Stadion
Kolase Tribunnews/Suryamalang.com
kolase foto Arema berduka atas tragedi Kanjuruhan dan spanduk bertuliskan Usut Tuntas atas tragedi yang menelan ratusan korban jiwa di Stadion Kanjuruhan bertebaran di sudut-sudut Kota Malang, Selasa (4/10/2022).Akibat tragedi tersebut, 

TRIBUNNEWS.COM, MALANG- Sugeng (50) memutuskan akan melarang anaknya menonton pertandingan sepak bola langsung di stadion.

Sugeng trauma tragedi Arema FC vs Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, yang menewaskan ratusan suporter.

Baca juga: Anggota TGIPF Kanjuruhan Doni Monardo Mulai Temui Sejumlah Pihak di Malang Hari Ini

Bagaimana tidak, anaknya yang baru lulus SMA bernama Risky Dendi Nugroho (19) juga menjadi satu diantara ratusan orang korban luka berat yang harus dirawat inap di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang.

Kakek dua cucu yang sehari-hari berjualan nasi goreng tersebut, mengatakan, anaknya masih harus dirawat karena sang anak terlalu banyak menghirup gas air mata yang dilontarkan aparat ke tribun penonton, saat terjadinya kerusuhan di dalam stadion Kanjuruhan.

"Ya traumanya seperti ini, masalah keamanan kok gak seperti diharapkan. Kok terjadi seperti ini. Apalagi sampai meninggal sebegitu banyaknya," kata Sugeng.

Apalagi saat teringat bagaimana dirinya berupaya mencari keberadaan sang anak yang sempat hilang, saat insiden kelabu Sabtu (1/10/2022) malam terjadi.

Ia tak tahu bagaimana kondisi sang anak, kala itu. Ada sekitar lima rumah sakit yang didatanginya.

Saking cemesnya, tak menemukan sang anak di ruang perawatan, Sugeng sampai membuka satu per satu kantung berisi mayat korban itu.

Baca juga: Komnas HAM: Masyarakat Malang Minta Segera Ada Tersangka Tragedi Stadion Kanjuruhan

Hingga tanpa sadar, seingat Sugeng, dirinya telah membuka lebih dari 50 kantong mayat di beberapa rumah sakit.

"Saya melihat sendiri jenazah begitu banyaknya untuk cari anak saya. Saya buka (kantong) jenazah lebih dari 50 di 2 rumah sakit. Waduh saya enggak bisa mikir. Saya mikiri kondisi kuat saja," ungkapnya.

Ditemui TribunJatim.com di depan IGD RSSA Kota Malang, Senin (3/10/2022). Sugeng mengaku trauma. Ia secara tegas, tidak bakal mengizinkan sang anak menonton pertandingan sepak bola secara langsung di dalam stadion.

Baca juga: Jokowi Telah Sampai di Malang, Jenguk Korban Tragedi Stadion Kanjuruhan

Jikalau memang terpaksa, paling, Sugeng akan meminta sang anak menyaksikan pertandingan sepak bola melalui layar kaca televisi.

"Ya enggak. Usah melihat seperti itu, gak usah lihat sepak bola, kalau mau lihat ya dari TV aja.
Keamanan Stadion harus ditingkatkan. Ya soal kemarin (gas air mata) dari mana asal usulnya ya dari aparat kemarin," pungkasnya.

Penulis: Luhur Pambudi

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com dengan judul Cerita Pilu Ortu Korban Luka Tragedi Kanjuruhan, Larang Sang Anak Nonton Sepak Bola di Stadion

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas