Perubahan Gaya Hidup Dinilai Jadi Kunci Hadapi Krisis Lingkungan
ekosistem terumbu karang di Bunake, Sulut disebut tengah menghadapi ancaman serius.
Penulis:
Reza Deni
Editor:
Malvyandie Haryadi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Krisis lingkungan di Manado, Sulawesi Utara, menjadi sorotan. Meski dikenal dengan keindahan Taman Laut Bunaken dan pesisirnya, ekosistem terumbu karang di sana disebut menghadapi ancaman serius.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) No-Trash Triangle Initiative menyoroti bagaimana sampah di Manado yang mencapai 227 ton per hari, dengan 15 persen berupa plastik yang sebagian besar berakhir di laut.
No Trash Trianhle Initiative sendiri adalah lembaga yang peduli terhadap lingkungan hidup.
Lembaga ini berdiri pada awal 2017. Saat itu Dr. Miriam Weber dan Christian Lott, ahli biologi kelautan dari HYDRA Marine Sciences, bekerja sama dengan para ilmuwan dari Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) untuk mempelajari sampah plastik yang bisa terurai secara alami di laut tropis, dengan menggunakan Manado dan pulau-pulau di sekitarnya sebagai basis.
Amelia Tungka, selaku Co-chairperson dari No Trash Trianhle Initiative mengingatkan, sampah plastik dari konsumsi sehari-hari memiliki dampak fatal bagi ekosistem laut. Sehingga dibutuhkan kesadaran bersama untuk mengubah gaya hidup.
"Perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu kunci penting dalam menghadapi krisis lingkungan," kata Amelia dalam acara "Academia Politica' dengan tema "Krisis Iklim & Wisata Laut Manado, dikutip Selasa, (9/9/2025).
Program Academia Politica adalah sebuah simulasi pembuatan kebijakan publik, di mana peserta bisa bermain peran (role-playing) sebagai aktor-aktor pengambil keputusan dalam isu strategis terkait perubahan iklim.
Total, ada 67 peserta dari berbagai SMA dan kampus di Kota Manado yang bermain peran (role playing) sebagai pembuat kebijakan seperti DPR/DPRD, akademisi, pemerintah, pelaku bisnis, dan LSM. Mereka terdiri dari pelajar dan mahasiswa.
Kembali ke Amelia, dia mencontohkan salah satu kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan publik adalah dengan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, misalnya plastik, kertas, dan kaleng.
"Pemilahan sampah plastik sangat krusial karena memungkinkan proses daur ulang di pabrik, sehingga dapat mengurangi penumpukan limbah plastik dan mencegah semakin banyaknya sampah yang berakhir di laut," saran dia.
"Kalau bukan kita, siapa? Kalau bukan sekarang, kapan? Cintai alam kita demi anak cucu kita," dorong Amelia.
Senada dengan itu, Executive Director Yayasan Partisipasi Muda (YPM), Neildeva Despendya menekankan isu iklim adalah isu politik yang erat kaitannya dengan dinamika kekuasaan dan partisipasi warga.
"Apa yang penguasa dan pemerintah buat akan berpengaruh ke kehidupan pribadi anak muda juga," ungkap Neildeva dalam kesempatan yang sama.
Dia mencontohkan, salah satu kebijakan yang merusak ekosistem laut Manado adalah reklamasi dan tambang. Hal itu diyakini akan membuat orang muda bisa mengalami eco-depression hingga climate anxiety.
"Untuk itu, penting sekali agar orang muda peduli dan menyuarakan "demand" ke pemerintah untuk menjaga laut Manado, agar dampak perubahan iklim tidak semakin parah," harap Neildeva.