Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Anak Pemulung Dikeluarkan dari Sekolah Usai Di-Bully, Kepsek: Sekolah Kami Ramah Anak

GDS siswi SMP Bandar Lampung dikeluarkan dari sekolah usai dibully karena ibunya pemulung, kisahnya viral di media sosial.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Anak Pemulung Dikeluarkan dari Sekolah Usai Di-Bully, Kepsek: Sekolah Kami Ramah Anak
TribunJogja.com
ILUSTRASI BULLYING - GDS (17), siswi SMP di Bandar Lampung, mengaku dikeluarkan dari sekolah usai dibully karena ibunya pemulung. 

Kata Amaroh, pihak sekolah bersedia membantu GDS agar bisa tetap memperoleh ijazah.

Caranya adalah dengan mengikuti program paket.

“Saya berharap GDS tetap sekolah. Saya bahkan akan membantu, walaupun dia belajar melalui program paket."

"Kami seluruh sivitas akademika berharap GDS memiliki masa depan yang lebih baik,” tegas Amaroh.

Perihal isu GDSdibully di sekolah, Amaroh membantahnya.

Diungkap Amaroh, justru keputusan untuk tidak bersekolah lagi itu dipilih GDS sendiri, bukan dikeluarkan dari sekolah.

"Awalnya GDSingin pindah sekolah, kami baru tahu kemudian bahwa ia akhirnya putus sekolah," ujar Amaroh.

Rekomendasi Untuk Anda

Lebih lanjut, Amaroh mengurai fakta soal GDS.

Dijelaskan Amaroh, GDSsudah empat tahun ketinggalan dalam pendidikannya.

Gina yang saat ini berusia 17 tahun seharusnya sudah duduk di bangku SMA, tapi belakangan justru putus sekolah di kelas VIII.

"Sampai saat ini kami masih memantau anak tersebut, apalagi kami melihat GDS di minimarket daerah Kemiling dia memulung," ujar Abdul Rohman. 

"Jadi kami memantau terus karena harapannya anak ini punya ijasah, kami sarankan arahkan ikut PKBM. Karena ada guru kami yang mengajar dengan harapan supaya GDS ini punya ijasah untuk melanjutkan pendidikannya," terang Abdul Rohman. 

Dikatakannya, GDS tinggal berpindah-pindah, semenjak tantenya meninggal dunia dan kemungkinan merasa minder.

"Jadi tidak ada pembullyan tersebut, mungkin karena anak itu minder dengan sendirinya. 
Setelah tantenya meninggal kami lost kontak dia tidak masuk lagi ke sekolah," ucapnya.

"Ada beberapa anak kami putus sekolah diarahkan ke PKBM, kami branding sekolah kami ini ramah anak, sosialisasi di sekolah ramah anak apalagi ada satgas retina," tukas Abdul Rohman.

Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com 

Sumber: Bangka Pos
Halaman 4/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas