Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Bencana Sumatera, Risiko ISPA Mengintai Ribuan Pengungsi, Pneumonia Jadi Ancaman Mematikan

Kondisi tenda yang padat, minim ventilasi, serta cuaca dingin dan lembap mempercepat penyebaran penyakit berbasis udara

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
zoom-in Bencana Sumatera, Risiko ISPA Mengintai Ribuan Pengungsi, Pneumonia Jadi Ancaman Mematikan
Dokumentasi Pribadi
RISIKO KEMATIAN - Dokter, epidemiolog, dan peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global Dicky Budiman, menegaskan bahwa risiko penyakit menular lewat udara seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia dalam situasi bencana di Sumatera bisa menjadi penyebab kematian tertinggi, terutama pada kelompok rentan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ribuan warga Aceh dan Sumatera Barat terpaksa tinggal di tenda pengungsian setelah banjir dan longsor.

Kondisi ini meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia.

Kondisi tenda yang padat, minim ventilasi, serta cuaca dingin dan lembap mempercepat penyebaran penyakit berbasis udara.

Dokter, epidemiolog, dan peneliti keamanan dan ketahanan kesehatan global Dicky Budiman, menegaskan bahwa risiko penyakit menular lewat udara dalam situasi bencana bisa menjadi penyebab kematian tertinggi, terutama pada kelompok rentan.

“Pengungsian padat di tenda-tenda tanpa ventilasi yang memadai itu akan memicu infeksi saluran pernafasan akut dan pneumonia. Ini yang menjadi penyebab mortalitas tertinggi pada bencana banjir,” jelasnya pada Tribunnews, Kamis (4/12/2025). 

Baca juga: Di Tenda Pengungsian, Prabowo Tegaskan Tidak akan Biarkan Masyarakat Pikul Beban Sendiri

ISPA hingga Pneumonia

Rekomendasi Untuk Anda

Dicky mengatakan bahwa pneumonia bukan hanya disebabkan bakteri, tetapi juga diperburuk oleh penurunan daya tahan tubuh akibat kelelahan, dingin, dan makanan terbatas.

“Selain itu juga ada influenza, Covid-19 dan juga pertusis,” tambahnya.

Di Aceh Besar dan Padang Pariaman, banyak balita dan lansia mulai mengeluhkan batuk berat hingga sesak.

Minimnya ruang pribadi dan adanya droplet dari penghuni tenda lain membuat penyebaran jauh lebih cepat.

Menurut Dicky, salah satu penyebab tingginya risiko adalah kurangnya ruang per orang.

Ia menegaskan bahwa lingkungan pengungsian harus memenuhi standar ruang minimum.

“Harus dikurangi kepadatan pengungsinya. Targetnya 3,5 meter persegi per orang setidaknya,” katanya.

Namun kondisi lapangan di beberapa titik Aceh dan Sumbar masih jauh dari angka itu.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas