Bendera Putih Berkibar di Depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Peduli Bencana Sumatera demo kibarkan bendera putih di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (18/12/2025)
Penulis:
Theresia Felisiani
Menurutnya, meski bantuan telah disalurkan melalui jalur laut dan udara, kebutuhan dasar warga terdampak belum sepenuhnya terpenuhi, terutama di wilayah tengah Aceh yang akses jalannya rusak parah.
Prof Humam menyebut kondisi bencana kali ini sangat berat, bahkan dinilai lebih dahsyat dibandingkan tsunami dalam konteks kerusakan wilayah tertentu.
“Beberapa asesmen menyebutkan siklon kali ini dampaknya lebih dahsyat dari tsunami. Bebannya luar biasa besar, dan negara sampai hari ini belum sangat mampu memenuhi seluruh kebutuhan,” katanya.
Ia menyoroti fakta bahwa hingga hari ke-20 pascabencana, ribuan warga masih hidup dalam kondisi tidak layak.
Puluhan ribu rumah di sedikitnya lima kabupaten/kota tertimbun lumpur hingga 2,5 meter, sementara hunian sementara belum tersedia.
“Mereka tidak tahu mau tidur di mana. Ada yang di masjid, ada yang menumpang. Ini hari ke-20 dan belum ada huntara,” tegasnya.
Prof Humam juga mengkritik ketimpangan antara laporan administratif dan realitas lapangan. Ia menyebut banyak laporan terlihat rapi di atas kertas, namun tidak mencerminkan penderitaan warga secara nyata.
“Yang ada itu kebenaran administratif. Tapi di lapangan ada ground truth. Ada yang lapar, ada yang harus berjalan belasan kilometer menjemput makanan. Bagaimana dengan orang tua, orang sakit, single parent?” ucapnya.
Baca juga: 21 Hari Listrik Masih Padam, Begini Penampakan Warga Aceh Utara Antre Cas HP Pakai Genset
Terkait wacana bantuan asing, Prof Humam menilai pembukaan akses bantuan internasional bukanlah tanda kelemahan negara.
“Negara kuat tidak bekerja sendirian saat krisis besar. Jepang, Amerika, mereka membuka diri. Ini bukan soal gengsi, ini solidaritas kemanusiaan,” katanya.
Ia menegaskan, bendera putih yang dikibarkan warga semata-mata adalah pesan kemanusiaan.
“Jangan marah pada bendera putih. Pertanyaannya bukan simbolnya, tapi kenapa orang sampai mengibarkannya. Itu pesan ‘save us’, tolong selamatkan kami,” tutup Prof Humam.
(tribun network/thf/Tribunnews.com/Serambinews.com)
Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul Negara Gagap Tangani Bencana Sumatera, Bendera Putih Berkibar di MRB: Rakyat Kecewa, Bukan Menyerah,
Baca tanpa iklan