Media Asing Soroti Fenomena Bendera Putih di Aceh
Fenomena korban bencana di Aceh kibarkan bendera putih mulai disorot sejumlah media asing.
Penulis: Theresia Felisiani
Ringkasan Berita:
- Media asing kembali menyoroti bencana banjir di Sumatra.
- Kali ini soal warga Aceh yang dilaporkan mengibarkan bendera putih.
- Belakangan sejumlah pejabat juga merespons fenomena bendera putih di Aceh.
TRIBUNNEWS.COM, ACEH - Fenomena demo hingga korban bencana di Aceh mengibarkan bendera putih disorot media asing.
Di Aceh sendiri gelombang demo disertai aksi pengibaran bendera putih terus bermunculan, buntut dari kekecewaan terhadap penanganan bencana ekologis yang melanda Aceh.
Hingga saat ini, total sudah 1.059 orang meninggal dunia, 7.000 orang luka-luka, dan 197 orang dinyatakan hilang akibat bencana di Aceh dan Sumatra.
Dari segi kerusakan, sebanyak 147.256 rumah rusak, 967 fasilitas pendidikan, 1.600 fasilitas umum, dan lainnya mengalami kerusakan.
Baru-baru ini massa dari Koalisi Masyarakat Sipil Aceh Peduli Bencana Sumatera melakukan aksi demonstrasi dan pengibaran bendera putih di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (18/12/2025).
Baca juga: Bendera Putih di Aceh, Rano Karno Duga Kepala Daerah Sudah Kirim Surat “Menyerah” ke Mendagri
Puluhan bendera putih berkibar di bawah rintik hujan di depan masjid yang menjadi ikon Provinsi Aceh tersebut.
Meski hujan turun, hal itu tak menyurutkan para peserta aksi untuk melontarkan ungkapan kekecewaan terhadap pemerintah.
Bendera Putih di Aceh Disorot Media Asing
Media asing menyoroti warga Aceh yang dilaporkan mengibarkan bendera putih.
Ini dimuat laman Singapura, Channel News Asia (CNA). Dikatakan bahwa warga Aceh telah mengibarkan bendera putih untuk menandakan mereka tidak lagi mampu mengatasi kondisi di sana.
"Lebih dari 1.000 orang di pulau Sumatra telah meninggal dalam bencana yang terjadi sekitar 25 November," tulis laman itu dalam artikel berjudul ‘Sumatra floods: Aceh residents raise white flags in desperation as hunger, shortages bite’.
"Namun, bantuan pemerintah kesulitan mencapai beberapa daerah terpencil dan selain kekurangan pangan dan listrik yang belum pulih, masalah kesehatan seperti demam, tifus, dan penyakit kulit juga menimpa para penyintas," tambahnya.
"Warga telah mengibarkan bendera putih di depan rumah-rumah di desa-desa, di sepanjang jalan raya nasional, dan di pos-pos darurat serta lokasi evakuasi. Kantor-kantor pemerintah daerah juga mengibarkan bendera putih untuk memprotes apa yang digambarkan warga sebagai lambatnya respons pemerintah pusat terhadap bencana tersebut, menurut laporan media lokal," muat laman tersebut lagi.
"Banjir telah menghancurkan ribuan rumah dan melumpuhkan ekonomi lokal, dengan pejabat pemerintah senior mengatakan bahwa rekonstruksi di seluruh wilayah yang terdampak di Sumatera diperkirakan akan menelan biaya setidaknya US$3,11 miliar."
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.