Media Asing Soroti Fenomena Bendera Putih di Aceh
Fenomena korban bencana di Aceh kibarkan bendera putih mulai disorot sejumlah media asing.
Penulis:
Theresia Felisiani
Sekretaris Jenderal PBNU ini pun memuji para kepala daerah yang sudah bekerja keras dalam menangani bencana. Gus Ipul pun mengajak pemerintah bekerja sama. "Pak Gubernur siang malam juga bekerja, Pak Bupati, Wali Kota juga bekerja, yang lain juga sedang bekerja," jelas Gus Ipul.
"Mari kita gandeng tangan untuk kita tanggulangi secara bersama-sama. Saya percaya, kita masih mampu dan bisa menanggulangi ini dengan baik, apalagi kalau ada kerja sama, kalau ada satu kolaborasi yang kuat," timpal Mensos.(cnbc/serambinews.com)
Prof Humam Hamid: Bendera Putih di Aceh Bukan Menyerah Tapi Isyarat Darurat &Save Us
Pengibaran bendera putih oleh warga di sejumlah wilayah terdampak banjir di Aceh menuai beragam tafsir.
Namun, Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh, Prof Humam Hamid, menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bentuk keputusasaan, melainkan sinyal darurat kepada negara.
“Bendera putih itu bukan tanda putus asa. Itu isyarat darurat. Dalam bacaan saya, masyarakat Aceh sedang mengatakan bahwa negara belum sepenuhnya hadir bersama mereka,” ujar Prof Humam dalam dialog di Kompas TV, Selasa (17/12/2025) dikutip Serambinews (18/12/2025).
Menurutnya, meski bantuan telah disalurkan melalui jalur laut dan udara, kebutuhan dasar warga terdampak belum sepenuhnya terpenuhi, terutama di wilayah tengah Aceh yang akses jalannya rusak parah.
Prof Humam menyebut kondisi bencana kali ini sangat berat, bahkan dinilai lebih dahsyat dibandingkan tsunami dalam konteks kerusakan wilayah tertentu.
“Beberapa asesmen menyebutkan siklon kali ini dampaknya lebih dahsyat dari tsunami. Bebannya luar biasa besar, dan negara sampai hari ini belum sangat mampu memenuhi seluruh kebutuhan,” katanya.
Baca juga: 21 Hari Listrik Masih Padam, Begini Penampakan Warga Aceh Utara Antre Cas HP Pakai Genset
Ia menyoroti fakta bahwa hingga hari ke-20 pascabencana, ribuan warga masih hidup dalam kondisi tidak layak.
Puluhan ribu rumah di sedikitnya lima kabupaten/kota tertimbun lumpur hingga 2,5 meter, sementara hunian sementara belum tersedia.
“Mereka tidak tahu mau tidur di mana. Ada yang di masjid, ada yang menumpang. Ini hari ke-20 dan belum ada huntara,” tegasnya.
Prof Humam juga mengkritik ketimpangan antara laporan administratif dan realitas lapangan. Ia menyebut banyak laporan terlihat rapi di atas kertas, namun tidak mencerminkan penderitaan warga secara nyata.
“Yang ada itu kebenaran administratif. Tapi di lapangan ada ground truth. Ada yang lapar, ada yang harus berjalan belasan kilometer menjemput makanan. Bagaimana dengan orang tua, orang sakit, single parent?” ucapnya.
Terkait wacana bantuan asing, Prof Humam menilai pembukaan akses bantuan internasional bukanlah tanda kelemahan negara.
Baca tanpa iklan