Anak-anak Muda Bicara Lapangan Kerja, TPPD Jateng Ungkap Daya Saing
Peserta berharap program Kartu Zilenial tak sekadar kartu, tetapi efektif menekan pengangguran.
Penulis:
Facundo Chrysnha Pradipha
Editor:
Yurika NendriNovianingsih
“Harapan kami mengurangi pengangguran. Bisa membuka peluang bagi anak-anak muda untuk bekerja selanjutnya,” ujarnya.
Pernyataan ini relevan dengan tantangan nasional.
Baca juga: Respons Kemenko PMK soal Fenomena Anak Muda Indonesia yang Takut Menikah
Data ketenagakerjaan beberapa tahun terakhir menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) usia muda secara konsisten lebih tinggi dibanding kelompok usia produktif lainnya.
Di banyak provinsi, lulusan SMA/SMK masih mendominasi angka pengangguran, menandakan adanya mismatch antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.
Ekspansi Cepat, Tantangan Kualitas
Ketua TPPD Jateng, Zulkifli Gayo, menyebut jumlah penerima Kartu Zilenial telah melonjak dari 11 ribu menjadi hampir 38 ribu hanya dalam tiga bulan.
“Sekarang hampir sudah 38 ribu. Tiga bulan lalu saat diserahkan itu masih 11 ribu. Artinya dalam waktu singkat kenaikannya sangat signifikan,” ujarnya.
Lonjakan ini mencerminkan respons tinggi generasi muda terhadap program yang menawarkan akses pelatihan, sertifikasi, hingga jejaring usaha.
Namun, dalam perspektif kebijakan publik, ekspansi kuantitatif perlu diiringi penguatan kualitas implementasi: kurikulum pelatihan yang relevan, pendampingan pasca-pelatihan, serta konektivitas dengan pasar kerja riil.
Zulkifli menegaskan program ini dirancang untuk mengalihkan energi anak muda ke aktivitas produktif, termasuk melalui UMKM Center.
“Jangan main game terus di rumah tanpa arah. Bagaimana hobi itu tapi bisa menghasilkan. Itulah yang difasilitasi,” katanya.
Ia juga menyinggung fenomena anak melawan orang tua akibat kecanduan judi online atau game daring.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata penegakan hukum, melainkan kurangnya ruang penyaluran minat dan bakat.
Isu ini sejalan dengan diskursus nasional mengenai literasi digital dan ekonomi kreatif
Pemerintah pusat mendorong transformasi digital dan pengembangan talenta digital, namun pada saat bersamaan menghadapi dampak negatif seperti judi online dan disinformasi.
Artinya, pendekatan pemberdayaan ekonomi kreatif dan literasi digital menjadi dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.