Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Mudik Dorong Gerobak Siomay Ala Edi dari Cilacap ke Pemalang: 4 Hari 4 Malam, Modal Rp 40 Ribu 

Mengulik mudik ala Edi, jalan kaki sambil dorong gerobak siomay dari Cilacap ke Pemalang diperkirakan selama 4 hari 4 malam, modal Rp 40 ribu.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Mudik Dorong Gerobak Siomay Ala Edi dari Cilacap ke Pemalang: 4 Hari 4 Malam, Modal Rp 40 Ribu 
Tribun Jateng/Permata Putra Sejati
MUDIK DORONG GEROBAK - Mengulik mudik ala Edi, jalan kaki sambil dorong gerobak siomay dari Cilacap ke Pemalang diperkirakan selama 4 hari 4 malam, modal Rp 40 ribu.  

Dia bahkan hanya membawa uang saku Rp 40 ribu saat memulai perjalanan.

Di sepanjang perjalanan, dia sesekali mendapat bantuan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan.

"Alhamdulillah ada yang support di pinggir jalan. Ada sekira satu sampai tiga orang yang langsung membantu," ujarnya.

MUDIK DORONG GEROBAK - Edi Rasidi (50), pedagang siomay asal Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, yang merantau ke Cilacap mendorong gerobak untuk mudik, Selasa (17/3/2026). Edy memilih berjalan kaki sambil mendorong gerobak siomay dari Cilacap menuju Pemalang.
MUDIK DORONG GEROBAK - Edi Rasidi (50), pedagang siomay asal Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, yang merantau ke Cilacap mendorong gerobak untuk mudik, Selasa (17/3/2026). Edy memilih berjalan kaki sambil mendorong gerobak siomay dari Cilacap menuju Pemalang. (Tribun Jateng/Permata Putra Sejati)

 

Live Selama Mudik Dorong Gerobak Siomay

Selain itu, Edy juga melakukan siaran langsung (live) selama perjalanan.

Dia mengaku ada teman yang membantu membelikan kuota internet agar ia tetap bisa melakukan live.

Edy baru enam bulan merantau di Sampang Cilacap. Dia tinggal sendiri di sana dengan menyewa kamar kos.

Rekomendasi Untuk Anda

Keputusan merantau itu diambil karena ingin mencoba pengalaman baru.

Sebelum merantau ke Sampang, Edy sebenarnya sudah lama berjualan siomay di kampung halamannya di Pemalang.

"Kalau di Pemalang dulu sudah sekira 20 tahun, bahkan hampir 22 tahun sebelum corona," tuturnya.

Di sana ia juga membuat sendiri semua bahan siomay yang dijualnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penghasilan dari berjualan siomay tidak menentu.

"Untuk tahun-tahun sekarang penghasilan saya tidak bisa diperjelas. Sangat jauh berbeda dari dulu," ujarnya.

Meski begitu, menurutnya hasil tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

"Kalau untuk makan saja cukup," katanya.

Baca juga: Kecelakaan dan Truk Patah AS Lambat Dievakuasi Biang Kerok Macet Horor di Jalintim Jambi-Palembang

Perjalanan mudik ini juga menjadi momen penting baginya untuk kembali berkumpul dengan keluarga. Di rumah, masih ada orangtua, istri, dan anak yang menunggu kepulangannya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas