TKA Digelar di Atas Bukit Gara-gara Mati Listrik, Ini Langkah SMP di Limapuluh Kota
TKA di SMP 4 Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sempat berlangsung di atas bukit seiring gangguan internet akibat mati listrik.
Penulis:
Fahdi Fahlevi
Editor:
Malvyandie Haryadi
Ringkasan Berita:
- Pelaksanaan TKA di SMP 4 Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sempat terkendala akibat mati listrik yang memutus jaringan internet.
- Menghadapi kondisi tersebut, pihak sekolah bergerak cepat. Kepala sekolah bersama guru dan siswa mencari lokasi dengan sinyal seluler lebih baik, meski harus berpindah ke atas bukit.
- Ujian akhirnya digelar di tenda dengan memanfaatkan jaringan ponsel. Langkah ini dilakukan agar asesmen tetap berjalan meski fasilitas utama tidak berfungsi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMP 4 Kapur IX, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, sempat berlangsung di atas bukit seiring gangguan internet akibat mati listrik.
Menghadapi kondisi tersebut, pihak sekolah bergerak cepat, Kepala sekolah bersama guru dan siswa mencari titik dengan sinyal lebih baik, meski harus berpindah lokasi dan mengandalkan koneksi dari ponsel.
Kabupaten Limapuluh Kota adalah salah satu daerah di Provinsi Sumatera Barat dengan ibu kota di Sarilamak. Dari Kota Padang ke Sarilamak berjarak sekitar 172 km dengan waktu tempuh rata-rata 2,5–3 jam perjalanan darat.
TKA pun digelar di tenda dengan jaringan ponsel.
"Anak-anak dan guru berinisiatif mencari titik yang ada sinyal (selular) agar ujian tetap bisa dilaksanakan," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Limapuluh Kota, Antoni, kepada wartawan Selasa (14/4/2026).
Situasi ini bermula dari kendala teknis yang terjadi tepat di hari pelaksanaan TKA.
Sekolah yang sebelumnya telah menyiapkan ujian daring harus menghadapi gangguan listrik yang berdampak langsung pada jaringan internet nirkabel (wifi) di lokasi yang semestinya tersambung dengan listrik.
Walhasil, sekolah mencoba memakai jaringan internet berbasis telepon seluler. Sayangnya, sinyal seluler di sekolah kurang stabil.
"Sinyal wifi dari seluler tidak stabil sehingga pelaksanaan di lokasi awal menjadi sulit," kata Antoni.
Gerak cepat pihak sekolah untuk menyesuaikan lokasi asesmen pun menuai apresiasi.
Langkah cepat tersebut dinilai sebagai bentuk nyata dedikasi dan tanggung jawab guru di lapangan.
Di tengah keterbatasan, para guru tetap berupaya memastikan proses asesmen berjalan tanpa harus menunda pelaksanaan.
"Alhamdulillah pelaksanaan TKA di sana tetap berjalan lancar," katanya.
Menurut Antoni, tanpa inisiatif tersebut, pelaksanaan TKA berisiko tidak dapat dilaksanakan sesuai jadwal.
Hal ini tentu akan menimbulkan persoalan baru, baik bagi siswa maupun sekolah, terutama dalam menjaga kesinambungan proses evaluasi pembelajaran.
Baca tanpa iklan