Sopir Tangki Tewas di Tragedi Bus ALS, Pertanyaan Soal Nanas Jadi Kenangan Terakhir
Ucapan soal nanas jadi pesan terakhir Ariyanto sebelum tewas dalam kecelakaan maut Bus ALS di Muratara
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Tangis keluarga pecah di RS Siti Aisyah Lubuklinggau usai kecelakaan maut Bus ALS di Muratara menewaskan 16 orang
- Ariyanto, sopir truk tangki BBM, menjadi salah satu korban
- Istri dan anak-anaknya terpukul, terutama karena ucapan terakhir Ariyanto soal titip membeli nanas kini menjadi kenangan terakhir yang tak terlupakan
TRIBUNNEWS.COM, LUBUKLINGGAU - Suasana duka menyelimuti keluarga korban kecelakaan maut Bus ALS yang terjadi di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara).
Di salah satu sudut ruang ruang jenazah RS Siti Aisyah Lubuklinggau, Sumsel, Rabu (6/5/2026), Usbapermi tampak tak kuasa menahan kesedihan.
Dengan mata sembab dan tubuh lemas, ia terus meratapi kepergian suaminya, Ariyanto, sopir truk tangki BBM yang menjadi salah satu korban tewas dalam tragedi tersebut.
Sesekali perempuan itu menundukkan kepala sambil menggenggam erat tangan anggota keluarganya.
Kehilangan sosok suami yang selama ini menjadi tempat bersandar membuat dirinya seperti kehilangan arah.
Di tengah suasana duka yang masih menyelimuti pikirannya, ada satu percakapan sederhana yang terus terngiang di benaknya.
Baca juga: Firasat Buruk Penumpang Bus ALS: Terpaksa Berangkat karena Tiket Tak Bisa Dibatalkan
Percakapan itu terjadi hanya beberapa jam sebelum maut merenggut nyawa sang suami.
Sekitar pukul 10.00 WIB, Ariyanto sempat pulang dan mampir ke rumah sebelum melanjutkan perjalanan kerja.
Tidak ada gelagat aneh maupun firasat buruk yang dirasakan Usbapermi saat itu.
Semua berjalan seperti hari-hari biasanya.
Ariyanto yang dikenal sebagai pribadi sederhana dan pekerja keras hanya melontarkan pertanyaan ringan kepada istrinya.
Ia bertanya apakah Usbapermi ingin dititipi buah nanas.
Kalimat sederhana itu kini berubah menjadi kenangan terakhir yang terus membekas di hati Usbapermi.
“Tak bisa berkata-kata saya,” ucapnya lirih sambil menahan tangis saat ditemui di rumah sakit.
Baca tanpa iklan