Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dari Daun Jambu Mete Jadi Kain Bernilai Jutaan Rupiah, Karya Alodie Ecoprint Diburu Turis Asing

Mantan pekerja Sritex bangkit lewat ecoprint ramah lingkungan asal Wonogiri yang kini diminati turis asing. Berikut cerita lengkapnya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Dari Daun Jambu Mete Jadi Kain Bernilai Jutaan Rupiah, Karya Alodie Ecoprint Diburu Turis Asing
Tribunnews.com/Endra Kurniawan
ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Dewi Catur Rahayu (50), pemilik dari Alodie Ecoprint yang karya-karyanya kini jadi incaran turis asing. Alodie Ecoprint berada di Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. 

Saat acara, turut hadir mahasiswa pendamping dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang memperkenalkan ecoprint.

“Saya ditanya tentang ecoprint. Saya waktu itu masih buta, lalu saya penasaran. Akhirnya dikenalkan dengan dosen mereka untuk belajar lebih lanjut soal ecoprint selama 3 hari,” ucap Dewi.

Sepulang dari Jogja, Dewi langsung berburu bahan di halaman rumah. Ia bereksperimen dengan memakai daun pule, daun jati, daun teruja, daun cosmos, daun eucalyptus, dan daun afrika.

Daun jambu mete khas Wonogiri juga dipakai hingga melahirkan motif yang diberi nama Sekar Jagat—diambil dari kata Sekar berarti bunga dan Jagat bermakna dunia atau kehidupan.

“Filosofinya menceritakan keindahan hutan Wonogiri lengkap dengan hewan-hewan di dalamnya,” tutur Dewi dengan bangga.

ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Foto Pemilik Alodie Ecoprint, Dewi Catur Rahayu saat bersama dengan Sandiaga Uno saat masih menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Foto Pemilik Alodie Ecoprint, Dewi Catur Rahayu saat bersama dengan Sandiaga Uno saat masih menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Pesona motif Sekar Jagat mampu memikat Bupati Wonogiri Setyo Sukarno untuk membelinya. Produk Alodie juga diminati Sandiaga Uno saat masih menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani.

Dewi juga memastikan pembuatan ecoprint miliknya menggunakan bahan-bahan 100 persen alami dan mengedepankan prinsip keberlanjutan (sustainability).

Rekomendasi Untuk Anda

Pewarna yang dipakai mulai kunyit, secang, kayu tingi, kulit manggis, jolawe, dan teger.

“Tidak ada bahan kimia sintetis sama sekali. Kita juga memanfaatkan limbah daun yang ada di sekitar. Setelah dipakai, tidak dibuang, tetapi bisa dijadikan kompos. Pewarnanya juga alami, tidak mencemari tanah dan tanaman,” imbuhnya.

Diburu Turis Asing

Tidak berhenti hanya pada selembar kain, Dewi kemudian mengembangkan usahanya menjadi puluhan produk fesyen dan aksesori. Mulai dari gamis, cardigan, tas, kemeja, tunik, sepatu, topi, gantungan kunci, hingga dompet.

Dalam sebulan, Dewi mampu memproduksi 150–200 produk ecoprint berbagai jenis, baik kain maupun produk turunannya dengan memberdayakan perempuan-perempuan di tempat tinggalnya, termasuk Dwi.

Harga yang ditawarkan bervariasi, tergantung tingkat kesulitan teknik maupun jenis kainnya. Termurah, Dewi mematok Rp250 ribu berbahan dasar katun, sedangkan yang termahal bisa mencapai Rp1,2 juta dengan kain sutra. Untuk produk turunan ecoprint, harganya Rp25 ribu sampai jutaan rupiah.

“Jadi kita tidak hanya menjual produk, tetapi juga ada nilai-nilai kreativitasnya,” katanya dengan mantap.

Dewi mengklaim ecoprint karyanya memiliki keunikan daripada yang lain. Produknya memiliki warna yang lebih lembut dan doff.

Ia juga berusaha memberikan nilai eksklusivitas, di mana setiap produk memiliki ciri khas tersendiri meski model dan warnanya senada.

Halaman 2/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas