Dari Daun Jambu Mete Jadi Kain Bernilai Jutaan Rupiah, Karya Alodie Ecoprint Diburu Turis Asing
Mantan pekerja Sritex bangkit lewat ecoprint ramah lingkungan asal Wonogiri yang kini diminati turis asing. Berikut cerita lengkapnya.
Penulis:
Endra Kurniawan
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
“Jadi tetap saya bedakan, punya ciri khas masing-masing. Alodie identik dengan warna-warna doff dan abstrak,” imbuhnya.
Dari segi pemasaran, Dewi memanfaatkan berbagai cara. Ia aktif di media sosial seperti Instagram dan rajin mengikuti berbagai pameran besar di berbagai hotel maupun event, termasuk Solo Art Market (SAM), ruang kreatif dan pasar seni di Selasar Ngarsopuro, Solo.
Kini, produk-produk Alodie menjadi incaran wisatawan lokal maupun asing. Hasil karya Dewi sudah menyebar ke negara-negara di Benua Asia hingga Eropa.
“Banyak turis yang maniak dengan produk saya. Ada dari Thailand, Selandia Baru, Turki, sampai Amerika. Kita sudah ekspor rutin, meski belum banyak, sekitar 5–10 produk,” katanya.
Sementara itu, omzet Dewi dalam satu bulan bersifat fluktuatif. Meski demikian, dalam satu bulan pendapatannya pernah menembus puluhan juta rupiah, sesuatu yang tidak pernah ia sangka.
“Itu pernah dikalkulasi, loh ternyata dalam satu bulan bisa segitu. Saya juga kaget sendiri, Masya Allah, Alhamdulillah,” katanya sembari bersyukur.
Tumbuh Bersama Rumah BUMN Solo
Cerita sukses Dewi membangun bisnis ecoprint tidak dapat dipisahkan dari peran Rumah Kreatif BUMN (RKB) Solo melalui program BRIncubator 2025.
Program ini merupakan inkubasi intensif dan pendampingan terstruktur dari Rumah BUMN yang dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Alodie bersama 25 UMKM lainnya se-Solo Raya mengikuti program tersebut agar bisnisnya naik kelas pada 14–28 Agustus 2025 lalu, bertempat di kantor RKB, Jalan Adi Sucipto No. 1B, Manahan, Banjarsari, Solo.
Dewi mengaku bisnisnya semakin bertumbuh karena mendapat banyak ilmu dari para mentor. Dalam ajang BRIncubator 2025, Alodie berhasil meraih juara 3.
“Dapat materi banyak sekali. Salah satunya bagaimana kita menonjolkan produk dari yang lain. Ada juga materi keuangan. Meskipun belum bisa menerapkan 100 persen, tetapi alhamdulillah sudah mendapatkan ilmunya,” tambahnya.
Terakhir, Dewi berharap usaha ecoprint miliknya semakin berkembang dan menjaring lebih banyak pelanggan dari dalam maupun luar negeri.
“Ke depan, produk kita semakin dikenal masyarakat luas dan bisa go internasional lebih banyak lagi. Banyak relasi, banyak pelanggan. Semoga ke depannya semakin baik,” tungkasnya.
Tak Hanya Mengantar UMKM Naik Kelas
Rumah BUMN, yang merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Rakyat Indonesia (BRI), memiliki tujuan utama mengembangkan kapasitas dan kapabilitas pelaku UMKM agar naik kelas.
Namun, perannya tidak sebatas itu. Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini menjelaskan ada 4 fungsi lainnya.