Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Dari Daun Jambu Mete Jadi Kain Bernilai Jutaan Rupiah, Karya Alodie Ecoprint Diburu Turis Asing

Mantan pekerja Sritex bangkit lewat ecoprint ramah lingkungan asal Wonogiri yang kini diminati turis asing. Berikut cerita lengkapnya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Dari Daun Jambu Mete Jadi Kain Bernilai Jutaan Rupiah, Karya Alodie Ecoprint Diburu Turis Asing
Tribunnews.com/Endra Kurniawan
ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Dewi Catur Rahayu (50), pemilik dari Alodie Ecoprint yang karya-karyanya kini jadi incaran turis asing. Alodie Ecoprint berada di Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan

TRIBUNNEWS.COM – Di bawah sorot cahaya lampu putih, Dwi tampak tekun menjahit lembaran ecoprint satu per satu. Kain-kain bermotif alami itu akan dirangkai menjadi produk fesyen yang jadi incaran turis asing.

Suasana hangat workshop Alodie Ecoprint di Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, siang itu menjadi saksi ketelatenannya.

Mesin jahit model jadul setia menemaninya bekerja. Mata, tangan, dan kaki Dwi bergerak selaras, memastikan setiap jahitan rapi tanpa cela. Ketelitian menjadi kunci lahirnya produk ecoprint berkualitas dari tangannya.

Kemampuan menjahit Dwi memang tak perlu diragukan. Keahlian itu telah ditempanya selama belasan tahun di dunia garmen.

Pun dangu nyambut damel teng PT Sritex 11 tahun. Terus 2025 woten PHK niku (Sudah lama kerja di PT Sritex selama 11 tahun. Lalu pada 2025 ada PHK),” tutur Dwi.

Ia mengaku lebih menjadi “manusia” ketika bekerja di Alodie Ecoprint. 

Rekomendasi Untuk Anda

Dwi mengenang dulu waktunya habis di luar rumah. Berangkat kerja pagi, pulang malam, membuatnya jarang berkumpul dengan tetangga. Bahkan, hanya sekadar ikut pertemuan warga pun tidak bisa.

Nyambut damel teng pabrik mboten kenal tonggo. Mboten saget kumpul-kumpul. Teng mriki saget nyambi nopo-nopo (Kerja di pabrik membuat tidak kenal tetangga. Tidak bisa ikut kumpul-kumpul. Kalau kerja di sini bisa melakukan hal lain),” tungkasnya.

ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Dwi, karyawan Alodie Ecoprint saat menjahit lembaran kain ecoprint untuk disulap menjadi produk-produk bernilai jutaan rupiah.
ALODIE ECOPRINT WONOGIRI - Dwi, karyawan Alodie Ecoprint saat menjahit lembaran kain ecoprint untuk disulap menjadi produk-produk bernilai jutaan rupiah. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Dari Penata Rias, Terjun ke Dunia Ecoprint

Pemilik Alodie Ecoprint, Dewi Catur Rahayu (50), berkisah bahwa ecoprint merupakan dunia baru baginya. Usaha pertamanya adalah penata rias pengantin dan penjahit sejak 2002 sampai sekarang.

Selama bertahun-tahun, bisnis Dewi mampu bertahan hingga akhirnya badai pandemi Covid-19 menerjang pada 2020. 

Permintaan merias terjun bebas, bahkan ia harus menelan pil pahit karena sama sekali tidak mendapat panggilan selama beberapa bulan akibat adanya pembatasan.

Kondisi tersebut membuat Dewi harus memutar otak agar asap dapur rumahnya terus mengepul. Hingga akhirnya, ia memutuskan terjun ke dunia ecoprint, teknik mencetak motif alami di atas kain dengan brand Alodie—diambil dari nama cucu tercinta.

“Kita keterbatasan ruang gerak untuk rias. Jadi kita berinovasi dengan produk baru, yaitu ecoprint sampai sekarang,” katanya kepada Tribunnews.com, Kamis (16/4/2026).

Ilmu ecoprint tidak didapat Dewi secara tiba-tiba. Ia belajar dari nol. Semua bermula ketika dirinya mendapat undangan pelatihan membatik dari Pemerintah Kabupaten Wonogiri sebelum Covid-19.

Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas