Jalan Baru di Desa Amolame, Mengubah Jalur Lumpur Menjadi Akses Harapan Warga
Dandim 1430/Konawe Utara, Letkol Kav Kuswara, mengungkapkan bahwa pembangunan jalan ini adalah langkah strategis untuk membuka keterisolasian wilayah
Penulis:
Willem Jonata
Editor:
Eko Sutriyanto
Ringkasan Berita:
- Jalur setapak di Desa Amolame, Konawe Utara, yang dulunya hanya berupa tanah licin dan semak belukar, kini bertransformasi menjadi jalan usaha tani yang layak dilalui kendaraan
- Jalan ini adalah urat nadi baru bagi ekonomi warga desa yang mayoritas menggantungkan hidup pada hasil perkebunan
- Pembangunan jalan sepanjang tiga kilometer ini merupakan bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 oleh Kodim 1430/Konawe Utara
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Deru mesin alat berat memecah kesunyian di hamparan kebun kakao dan kelapa sawit Desa Amolame, Kecamatan Andowia, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
Bagi warga setempat, bunyi mesin tersebut adalah melodi harapan yang sudah lama dinanti.
Perlahan, jalur setapak yang dulunya hanya berupa tanah licin dan semak belukar, kini bertransformasi menjadi jalan usaha tani yang layak dilalui kendaraan.
Pembangunan jalan sepanjang tiga kilometer ini merupakan bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 oleh Kodim 1430/Konawe Utara.
Lebih dari sekadar proyek fisik, jalan ini adalah urat nadi baru bagi ekonomi warga desa yang mayoritas menggantungkan hidup pada hasil perkebunan.
Sumarsono, Kepala Desa Amolame, mengenang masa-masa sulit saat akses perkebunan masih sangat terbatas. Bagi para petani, membawa hasil panen ke pusat desa adalah perjuangan fisik yang melelahkan.
“Dulu ini hanya jalan setapak. Jika musim hujan tiba, jalannya menjadi lumpur dan nyaris tak bisa dilalui. Warga terpaksa memanggul hasil kebun dengan berjalan kaki,” kenang Sumarsono.
Baca juga: Kejagung Usut Dugaan Korupsi Izin Tambang di Konawe Utara, Mulai Disidik Sejak Agustus 2025
Kini, senyum warga mulai mengembang. Akses yang terbuka lebar memungkinkan kendaraan roda dua maupun roda empat masuk hingga ke titik terjauh perkebunan. Bagi Sumarsono, hadirnya jalan ini bukan hanya soal memangkas jarak, tetapi juga menekan biaya angkut yang selama ini membebani petani kakao dan sawit di desanya.
Di bawah terik matahari, personel TNI dan warga bahu-membahu. Pemandangan hamparan material jalan yang dilakukan bersama-sama menjadi simbol nyata kemanunggalan aparat dengan rakyat.
Dandim 1430/Konawe Utara, Letkol Kav Kuswara, mengungkapkan bahwa pembangunan jalan ini adalah langkah strategis untuk membuka keterisolasian wilayah.
Wilayah yang sebelumnya sempat ditetapkan sebagai kawasan kumuh oleh Pemerintah Daerah akibat minimnya infrastruktur, kini perlahan mulai ditata menjadi area yang produktif.
"Jalan ini adalah awal. Kami tidak hanya ingin mempermudah petani mengangkut hasil kebun, tapi juga membuka akses bagi pengembangan wilayah ke depan, termasuk rencana pembangunan sekolah terintegrasi hingga Yonif Teritorial di kawasan ini," ujar Letkol Kav Kuswara.
Kehadiran infrastruktur ini pun mendapat perhatian khusus dari Mabes TNI.
Marsma Elia Adrianto, Ketua Tim Pengawasan dan Evaluasi (Wasev) TMMD 128, menyatakan bahwa pembangunan di Amolame merupakan wujud sinergi yang tepat sasaran antara Kodim 1430/Konawe Utara dan Pemerintah Kabupaten.